Menu
Pencarian

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pangan, Pacitan Pastikan Produksi Beras Surplus

JTV Pacitan - Jumat, 6 Maret 2026 09:56
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pangan, Pacitan Pastikan Produksi Beras Surplus
Dokumen saat petani Pacitan memanen padi tahun 2025 lalu. (Foto:Edwin Adji)

PACITAN - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memicu kekhawatiran global. Penutupan jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, mulai dari minyak hingga pupuk. Kondisi ini berpotensi memperburuk tekanan pada sistem pangan global.

Situasi tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pacitan, khususnya terkait ketahanan pangan daerah. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan menilai gejolak geopolitik dunia bisa berdampak tidak langsung terhadap sektor pertanian, terutama melalui kenaikan harga pupuk dan biaya produksi.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, mengatakan bahwa konflik internasional memang tidak bisa diabaikan karena memiliki efek berantai terhadap stabilitas pangan daerah. “Memang dampak secara umum dari adanya peperangan di Timur Tengah mau tidak mau harus menjadi atensi kita untuk bagaimana ketahanan pangan di Kabupaten Pacitan khususnya bisa dijaga stabilitas dan tetap kondusif,” ujarnya ditulis Jum'at (06/3) pagi.

Meski demikian, Sugeng memastikan kondisi produksi pangan di Pacitan masih relatif aman. Produksi beras daerah dinilai masih mampu mencukupi kebutuhan masyarakat bahkan mengalami surplus.

Baca Juga :   Jalan Nasional Pacitan–Trenggalek Rusak Jelang Mudik Lebaran 2026, Warga Pasang Tanda Darurat

Menurutnya, produksi beras Pacitan pada tahun 2025 mencapai sekitar 180 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat per tahun hanya berkisar 140 ribu ton. “InsyaAllah secara produksi saya sampaikan cukup, masih ada kelebihan daripada kebutuhan,” katanya.

Ia menambahkan, capaian produksi tersebut tidak lepas dari faktor iklim yang cukup mendukung sepanjang tahun sehingga pola tanam padi bisa dilakukan lebih intensif. “Produksi cukup bagus karena didukung iklim. Curah hujan relatif stabil sehingga petani bisa menanam hampir sepanjang tahun,” jelasnya.

Meski demikian, Sugeng mengingatkan bahwa sistem distribusi pangan tetap harus diperhatikan. Pasalnya, pergerakan komoditas beras tidak sepenuhnya bersifat lokal karena terdapat arus keluar-masuk gabah dan beras dari wilayah lain. “Kita juga tahu bahwa ada beras yang masuk ke Pacitan, tapi ada juga gabah hasil panen kita yang keluar. Namun secara umum distribusi masih berjalan lancar,” katanya.

Baca Juga :   Safari Ramadhan di PLN Nusantara Power UP Pacitan, Dirut Tekankan Keandalan dan Integritas Kerja

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Pacitan juga menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Saat ini, cadangan beras milik pemerintah daerah yang disimpan di gudang Bulog mencapai sekitar 17 ton. Cadangan tersebut dapat digunakan dalam kondisi darurat, seperti saat terjadi bencana alam atau gangguan distribusi pangan.

Sugeng juga mendorong masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dengan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan alternatif. “Kami berharap masyarakat bisa melakukan swasembada pangan skala rumah tangga dengan memanfaatkan pekarangan sebagai stok bahan pangan hidup,” pungkasnya.

Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, ketahanan pangan lokal dinilai menjadi kunci penting agar daerah tetap mampu bertahan dari potensi guncangan harga dan pasokan pangan dunia. (Edwin Adji)

Editor : JTV Pacitan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.