SURABAYA - Di tengah kepungan beton dan laju urbanisasi Surabaya Barat, sekelompok pemuda di Desa Ndonowati memilih jalan berbeda untuk bertahan. Berawal dari obrolan santai, tujuh pemuda desa ini melahirkan inisiatif ekonomi berbasis komunitas yang kini dikenal sebagai Pasar Lawasan Ndonowati.
Kelompok yang kini menamakan diri Paguyuban Perekonomian Mandiri ini lahir dari keresahan melihat kondisi ekonomi desa yang stagnan di tengah masuknya korporasi besar. "Kami berkeinginan agar perekonomian desa kami ini naik," ujar Ketua Paguyuban, Budi Kiswono.
Melawan Skeptisisme dengan Aksi Nyata
Membangun pasar wisata di desa sendiri bukan perkara mudah. Awalnya, sebagian warga memandang skeptis gagasan ini. Alih-alih berhenti karena minimnya sokongan dana, para pemuda ini memilih langsung bergerak secara swadaya.
Mereka membangun pasar, menyusun sistem transaksi, dan mendatangi warga satu per satu untuk mengajak berjualan. "Warga tidak bisa hanya diajak membayangkan teori. Kami tunjukkan langsung hasilnya. Dari situ, mereka mulai ikut karena bisa merasakan dampaknya sendiri," jelas Budi.
Kini, setiap Sabtu dan Minggu, Desa Ndonowati yang dulu sepi berubah menjadi destinasi ramai yang menarik pengunjung dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Mojokerto.
Koin Kayu dan Nostalgia Tanpa Plastik
Konsep tempo dulu menjadi nyawa pasar ini. Lapak-lapak sederhana dihiasi ilalang, alunan keroncong dan campursari yang syahdu, hingga beragam permainan tradisional membawa pengunjung bernostalgia.
Salah satu daya tarik uniknya adalah sistem transaksi. Pengunjung tidak menggunakan uang tunai, melainkan kepingan koin kayu berlogo khusus. Setiap keping bernilai Rp2.000. Sistem ini bukan sekadar pemanis, melainkan cara pengelola memantau penjualan.
"Koin ini memudahkan evaluasi. Jika ada pedagang yang sepi, kami duduk bersama mencari solusi, baik dari sisi produk maupun penataan lapaknya," tambah Budi.
Tak hanya soal budaya, Pasar Lawasan juga memegang prinsip ramah lingkungan. Penggunaan plastik diminimalkan; daun pisang menjadi pembungkus utama, dan pengunjung dianjurkan membawa botol minum sendiri. Tote bag pun disediakan sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai.
Murni Kepentingan Sosial
Pengelolaan pasar ini dilakukan secara transparan. Panitia hanya memotong lima persen dari total penjualan untuk operasional. Tidak ada pembagian keuntungan finansial bagi pengelola; sebagai kompensasi kerja keras mereka, panitia hanya diberi satu lapak untuk berjualan.
"Aturannya jelas: jenis makanan harus tradisional, harga terjangkau, dan dilarang menjual produk yang sama agar persaingan sehat," kata Budi.
Dampaknya terasa nyata bagi dapur warga. Sri Komalasari, salah satu pedagang, mengaku sangat terbantu. "Bagi kami ibu rumah tangga, pasar ini sangat membantu. Kami jadi punya penghasilan sendiri untuk keluarga," ungkapnya.
Meski sempat menghadapi kendala teknis hingga tawaran relokasi, Paguyuban Perekonomian Mandiri memilih tetap bertahan di Desa Ndonowati. Bagi mereka, pasar ini adalah bukti bahwa kemandirian desa bisa lahir dari tangan-tangan pemuda yang peduli. (Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















