Menu
Pencarian


Ketika Perempuan Dibenturkan dengan Perempuan: Menyoal Misogini di Balik Perbandingan Naykilla dan Ghea

Portaljtv.com - Rabu, 12 Agustus 2026 14:50
Ketika Perempuan Dibenturkan dengan Perempuan: Menyoal Misogini di Balik Perbandingan Naykilla dan Ghea
Ketika Perempuan Dibenturkan dengan Perempuan: Menyoal Misogini di Balik Perbandingan Naykilla dan Ghea

Sebuah unggahan sederhana di Threads yang membandingkan gaya panggung dua musisi perempuan, Naykilla dan Ghea Indrawari, berubah menjadi drama besar di jagat maya. Bermula dari komentar yang menilai Ghea lebih pantas disebut "centil" dibanding Naykilla, perdebatan ini dengan cepat merosot menjadi ajang saling hujat bahkan sampai memunculkan sebutan merendahkan dan bernuansa mempermalukan tubuh perempuan terhadap salah satu pihak. Pemilik akun yang melontarkan komentar tersebut, Okta Pujiana, akhirnya meminta maaf secara terbuka setelah menghadapi ancaman pelaporan hukum dan somasi. Namun di balik satu insiden viral ini, tersimpan pola yang jauh lebih besar dan berulang dalam budaya ber-internet Indonesia.

Membandingkan satu perempuan dengan perempuan lain di ruang publik, khususnya dalam dunia hiburan, bukanlah hal baru. Pola ini sering disebut sebagai budaya "pit fighting" sengaja membenturkan dua sosok perempuan seolah keduanya sedang berkompetisi memperebutkan validasi tunggal dari publik, biasanya berdasarkan penampilan fisik atau gaya panggung, bukan kualitas karya maupun pencapaian profesional mereka. Dalam kasus Naykilla dan Ghea, alih-alih menilai keduanya sebagai musisi dengan gaya bermusik dan karakter panggung yang memang berbeda, publik justru terjebak dalam narasi "siapa yang lebih pantas" atau "siapa yang lebih sopan" kerangka berpikir yang pada akhirnya hanya merugikan kedua belah pihak.

Yang membuat fenomena ini semakin kompleks adalah fakta bahwa komentar merendahkan semacam ini kerap dilontarkan oleh sesama perempuan, bukan semata dari kalangan laki-laki. Dalam kajian feminisme, situasi ini dikenal sebagai misogini yang terinternalisasi kondisi ketika perempuan turut menginternalisasi dan mereproduksi standar patriarkal yang sebenarnya merugikan perempuan itu sendiri, termasuk kebiasaan menilai sesama perempuan lewat kacamata "pantas" atau "tidak pantas" berdasarkan citra kesopanan yang diciptakan oleh budaya patriarki. Penelitian mengenai pola misogini di media populer Indonesia turut mengonfirmasi bahwa representasi perempuan di ruang digital sering kali terjebak dalam tiga pola utama: pengobjekan tubuh, pengerdilan kapabilitas, serta pelecehan verbal lewat kolom komentar ketiganya tampak jelas terulang dalam kasus ini.

Persoalan inti dari perdebatan ini sebenarnya bukan soal siapa yang tampil lebih "centil" atau "sopan" di atas panggung, melainkan mengapa perempuan terus-menerus dituntut memenuhi standar kesantunan tertentu yang jarang sekali dibebankan secara setara kepada musisi laki-laki. Gaya panggung yang energik, gestur yang percaya diri, atau ekspresi yang bebas kerap dimaknai berbeda tergantung siapa yang membawakannya sesuatu yang oleh diskursus feminisme dikritik sebagai bentuk kontrol sosial terhadap tubuh dan ekspresi perempuan di ruang publik. Ironisnya, alih-alih mengapresiasi keberagaman gaya bermusik dua perempuan berbakat, publik justru sibuk memperdebatkan siapa yang "lebih layak" dihormati berdasarkan penampilan semata.

Kasus Naykilla dan Ghea seharusnya menjadi pengingat bahwa budaya membanding-bandingkan perempuan di ruang digital tidak pernah benar-benar menguntungkan siapa pun baik yang "dimenangkan" maupun yang "dikalahkan" dalam perbandingan tersebut. Alih-alih terus memperkuat siklus ini, publik perlu belajar mengapresiasi karya dan individualitas setiap musisi perempuan tanpa harus menempatkan mereka dalam arena kompetisi yang sesungguhnya tidak pernah mereka minta. Pada akhirnya, keberanian untuk tampil apa adanya di atas panggung apa pun gayanya seharusnya dirayakan, bukan dijadikan bahan untuk saling menjatuhkan. (Naswa Thalita Zada)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.