KABUPATEN MADIUN - Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat adanya peningkatan kasus suspek campak pada anak dan balita sejak awal tahun 2026. Meski jumlah kasus meningkat, seluruh pasien dilaporkan telah sembuh dan hasil pemeriksaan laboratorium hingga kini masih menunggu.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujianto, menyebut jumlah kasus suspek campak mencapai 52 kasus sepanjang Januari hingga 14 April 2026. Angka ini meningkat dibandingkan bulan Maret yang tercatat sebanyak 25 kasus.
Namun demikian, hingga saat ini hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya belum keluar. Hal ini disebabkan oleh kendala ketersediaan reagen.
“Sampai sekarang hasil laboratorium masih menunggu karena ada keterbatasan reagen di BBLK Surabaya,” ujar Agung Dodik.
Baca Juga : Sering Rebahan Setelah Makan? Ternyata Bukan Bikin Gemuk, Ini Dampaknya
Meski belum ada konfirmasi positif campak, seluruh pasien suspek telah mendapatkan penanganan medis dan dinyatakan sembuh. Penanganan dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit, dengan mayoritas pasien menjalani rawat jalan.
Sementara itu, pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid harus menjalani perawatan inap selama tiga hingga tujuh hari.
Gejala yang dialami pasien suspek antara lain demam, ruam merah di seluruh tubuh, konjungtivitis atau mata berair, serta batuk dan sesak napas. Kasus-kasus ini tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Madiun dan tidak menunjukkan pola penularan yang berdekatan.
Baca Juga : Sopir Bus di Terminal Kertonegoro Ngawi Jalani Pemeriksaan Kesehatan dan Tes Urine
Meski begitu, masyarakat tetap diimbau untuk waspada karena penularan campak dapat terjadi melalui udara atau droplet.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran ke seluruh fasilitas kesehatan, melakukan edukasi kepada masyarakat, serta menyiapkan tenaga medis untuk penanganan.
Capaian imunisasi di Kabupaten Madiun juga terbilang tinggi, dengan imunisasi MR2 mencapai 100 persen dan MR1 sebesar 99 persen.
Baca Juga : Sering Cepat Lapar Saat Puasa? Bisa Jadi Ini Kesalahan Saat Sahur
Jika nantinya hasil laboratorium mengonfirmasi adanya kasus positif campak dan berpotensi menyebar, pemerintah akan melakukan langkah lanjutan berupa Outbreak Response Immunization (ORI) guna mencegah penyebaran lebih luas.
Editor : JTV Madiun



















