PONOROGO - Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, menyebabkan jembatan penghubung antar desa ambrol. Akibatnya, akses utama warga terputus dan aktivitas sehari-hari terganggu.
Jembatan yang menghubungkan Desa Tempuran dan Desa Sriti, tepatnya di Dusun Krajan, kini tidak dapat dilalui setelah mengalami kerusakan parah. Infrastruktur sepanjang kurang lebih 15 meter dengan lebar 4 meter itu sebelumnya menjadi jalur vital warga menuju sekolah, lahan pertanian, hingga pusat perekonomian.
Peristiwa ambrolnya jembatan pertama kali diketahui pada Rabu pagi, 15 April 2026. Diduga, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak malam hari menyebabkan debit air Sungai Tempuran meningkat drastis. Kondisi ini memicu erosi yang mengikis pondasi jembatan hingga akhirnya tidak mampu menahan arus.
Selain faktor cuaca, usia jembatan yang sudah puluhan tahun tanpa perbaikan besar juga disebut menjadi penyebab kerusakan semakin parah.
Dampak dari putusnya akses tersebut cukup dirasakan warga. Mereka terpaksa memutar sejauh dua hingga lima kilometer untuk mencapai tujuan. Bahkan, sebagian warga memilih berjalan kaki melintasi area perkebunan dan persawahan demi mempersingkat waktu tempuh.
Salah satu warga, Katemin, mengaku kesulitan menjalankan aktivitas sejak jembatan ambrol.
“Biasanya lewat jembatan itu lebih dekat. Sekarang harus muter jauh, kadang lewat kebun biar lebih cepat,” ujarnya.
Kepala Desa Tempuran, Tri Wahyono, mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian ini kepada pemerintah daerah dan berharap segera ada penanganan.
“Kami sudah melaporkan ke pemerintah daerah dan berharap segera ada solusi, minimal jembatan darurat agar warga bisa kembali beraktivitas normal,” katanya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan atau pembangunan jembatan darurat, sehingga mobilitas masyarakat dapat kembali lancar dan aktivitas ekonomi tidak terganggu lebih lama.
Editor : JTV Madiun



















