MAGETAN - Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, atmosfer berbeda justru dirasakan oleh para pedagang perlengkapan sekolah di Pasar Parang, Kabupaten Magetan. Jika biasanya momen ini menjadi berkah musiman karena masyarakat berbondong-bondong memborong kebutuhan anak sekolah, kali ini lapak-lapak mereka justru sepi senyap. Saat dikunjungi pada Jumat (10/7/2026), omset penjualan barang-barang krusial seperti tas, sepatu, dan buku tulis mengalami penurunan drastis hingga menyentuh angka 50 persen jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya.
Perubahan pola belanja masyarakat menjadi faktor utama di balik lesunya aktivitas ekonomi di pasar tradisional Magetan ini. Semakin banyak orang tua murid yang beralih memilih membeli kebutuhan sekolah melalui toko online karena dianggap jauh lebih praktis dan menawarkan promosi harga yang lebih kompetitif. Akibatnya, rantai pasok lokal di pasar konvensional kian hari kian tergerus oleh masifnya arus perdagangan digital yang kian mendominasi pasar domestik.
"Jadi, penjualan peralatan di Pasar Parang itu untuk anak-anak sekolah, dari sepatu, tas, sampai buku, menurunnya berkisar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Perbandingannya sangat jauh," urai Pak Suratman, salah satu pedagang perlengkapan sekolah.
Kondisi ini kian diperparah oleh keterbatasan kemampuan para pedagang lokal dalam mengadopsi teknologi baru secara mandiri. Mayoritas pelaku usaha di Pasar Parang didominasi oleh kelompok usia lanjut yang tidak akrab dengan gawai. Ketimpangan kemampuan digital ini membuat mereka semakin sulit untuk bersaing dan mempertahankan eksistensi usahanya di tengah perubahan zaman yang melaju begitu cepat.
"Yang jelas itu penyebabnya dari online. Jadi dari penjualan online, itu yang jelas. Kalau orang tua seperti saya ini enggak ngerti cara-cara jualan online, pokoknya adanya di sini ya jualannya begini aja," tambahnya.
Harapan besar digantungkan kepada pemerintah daerah setempat untuk segera turun tangan memfasilitasi pelatihan literasi digital serta menggandeng para pedagang dalam program bazar sekolah. Langkah inovatif ini dinilai mendesak agar eksistensi para pedagang kecil tidak semakin tenggelam dan tergilas oleh roda zaman.
"Meski demikian, kami tetap berharap masyarakat masih memberikan kepercayaan untuk berbelanja di pasar tradisional karena pembeli bisa melihat langsung kualitas barang dan menawar harga secara langsung," pungkasnya penuh harap. (*)
Editor : Iwan Iwe



















