Menu
Pencarian


Cuaca Panas Ekstrem, TPA Pakusari Jember Siaga 24 Jam Cegah Kebakaran

Lutfi Qurrohman - Jumat, 10 Juli 2026 16:21
Cuaca Panas Ekstrem, TPA Pakusari Jember Siaga 24 Jam Cegah Kebakaran
Suasana area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Magetan, Jumat (10/7/2026).

JEMBER - Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jember meningkatkan kesiapsiagaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari pada Jumat (10/7/2026). Langkah ini diambil untuk mencegah risiko kebakaran tumpukan sampah yang rawan muncul akibat cuaca panas ekstrem selama musim kemarau. Guna mengantisipasi hal tersebut, petugas disiagakan penuh selama 24 jam serta didukung oleh armada truk tangki air di lokasi.

Pihak pengelola menerapkan sistem pengawasan ketat dengan menerjunkan empat petugas secara bergantian setiap malam. Patroli berkala ini diperkuat dengan kesiapan satu unit truk tangki berisi 5.000 liter air yang disiagakan penuh untuk memadamkan kemunculan titik api secara cepat.

"Dari pihak kita sendiri, kita juga sudah melakukan piket setiap malamnya untuk menjaga, menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, kebakaran lagi. Setiap malamnya ada empat orang, lain waktu," urai Totok Mohammad, petugas jaga TPA Pakusari.

Selain faktor cuaca panas dan kandungan gas metana pada sampah yang mengering, potensi kebakaran juga rawan dipicu oleh faktor eksternal lingkungan sekitar. Embusan angin kencang dikhawatirkan dapat membawa percikan api dari aktivitas warga atau petani yang membakar jerami di lahan pertanian sekitar TPA.

"Ya, karena musim kemarau kemarin, kayaknya petani itu bakar sampah-sampah jerami atau apa, nah sehingga angin kencang kan ada. Mungkin dari sepuntung rokok atau gimana, cuman belum kita pastikan secara detailnya. Cuman kita tetap siaga bagaimana antisipasi kita untuk menangani. Setiap hari kita kontrol," tambah Totok mengenai kerawanan area kerja.

Kondisi gunungan sampah di TPA Pakusari saat ini terpantau telah mencapai ketinggian sekitar 35 meter dari dasar. Untuk menekan risiko kebakaran dan mengurai gas metana yang tertimbun, proses penataan serta perataan material sampah wajib dilakukan secara intensif setiap hari.

"Ketinggian sampai yang ada sekarang itu kalau dari dasar tinggal 5 meter. Alat bantu kita, truk tangki air," jelas Riski Eko, pemulung di TPA tersebut.

Dalam menjalankan pemantauan harian, petugas TPA tidak bekerja sendirian melainkan dibantu oleh ratusan pemulung yang beraktivitas di lokasi untuk melaporkan titik asap. Adapun proses penataan gunungan sampah setinggi puluhan meter tersebut dimaksimalkan dengan pengerahan tiga unit alat berat operasional.

"Alat berat ada tiga. Ekskavator dua, bulldozer satu. Paling mungkin kepanasan, ada ledakan dari korek-korek itu yang meledak, kadang," pungkas Riski. (*)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.