LUMAJANG - Antrean panjang kendaraan terlihat mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang pada Sabtu (7/3/2026). Salah satu titik antrean terparah terpantau di SPBU Bagu, Kelurahan Jogotrunan.
Sejak siang hingga sore hari, pengendara roda dua maupun roda empat memadati area SPBU untuk mengisi bahan bakar jenis Pertalite dan Pertamax. Antrean kendaraan bahkan meluber hingga ke luar area SPBU, menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Kondisi ini diduga dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap isu keterbatasan pasokan minyak dunia, menyusul kabar penutupan jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah. Kabar mengenai stok BBM nasional yang dikabarkan hanya tersisa untuk 20 hari ke depan juga membuat warga merasa perlu mengisi bahan bakar lebih awal.
Irfan, salah satu pengendara di SPBU Bagu, mengaku harus menunggu lebih lama dari biasanya. “Biasanya saat pulang kerja tidak seramai ini. Hari ini saya harus menunggu sekitar 20 menit untuk mengisi BBM,” ujarnya.
Baca Juga : BBM Non-Subsidi Naik per 18 April, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400
Menanggapi fenomena tersebut, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, segera memberikan klarifikasi. Ia memastikan bahwa stok BBM di wilayah Lumajang dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Stok BBM sudah saya cek tadi sore, di Lumajang masih aman. Saya mengimbau masyarakat tidak perlu melakukan panic buying atau membeli secara berlebihan. Cukup isi sesuai kebutuhan saja,” tegas Indah.
Lebih lanjut, Bupati Indah memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada kendala dalam rantai pasok dari pemerintah pusat. Distribusi BBM ke wilayah Lumajang dilaporkan tetap berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Baca Juga : Dua Perkara Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Diungkap Polresta Banyuwangi
Pemerintah Kabupaten Lumajang menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menjamin ketersediaan BBM di lapangan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. (Yona Salma)
Editor : Iwan Iwe



















