SURABAYA - Film pendek berjudul Maya karya mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya resmi diputar perdana dalam sesi screening yang berlangsung di BSM Rental, Jalan Darmo, Surabaya, Sabtu (30/5/2026).
Acara ini dihadiri oleh Dekan dan Kepala Program Studi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra, sekaligus menjadi ajang presentasi karya akhir mata kuliah Film Production dan Film Distribution.
Film ini disutradarai oleh Gloria Viorentia, yang tampil mewakili tim dalam sesi diskusi usai pemutaran. Mengambil satu sudut pandang tunggal milik karakter utama bernama Maya.
Film ini mengajak penonton menelusuri perjalanan hidup seorang perempuan muda. Mulai dari bagaimana impiannya tumbuh, tantanngan dalam perjalanannnya, hingga momen paling kelam yang dihadapi.
Baca Juga : Revitalisasi Pasar Tradisional Surabaya, Ben Gak Kemproh lan Tetep Ramai Pengunjung
Gloria menjelaskan tim memilih pendekatan naratif Point of View (POV) untuk membangun kedalaman emosional. Isu yang diangkat dipilih karena relevansinya dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
"Kita juga melihat gimana sih dia cara melahirkan mimpinya, dan kita juga bisa mengikuti cerita hidupnya dari awal sejarah mimpinya sampai ke momen terburuknya," ungkap Gloria.
Tim memutuskan untuk menyoroti krisis identitas yang kerap muncul akibat ambisi yang tak terkendali, termasuk bagaimana seseorang bisa mengorbankan orang-orang terdekat demi mengejar tujuan pribadi.
Baca Juga : Purrfect Day Out: Aksi Berbagi Kasih Sayang kepada Kucing UNESA Kampus 1 Ketintang
"Kami angkat isu krisis identitas. Kita kayak banyak orang yang buat momen-momen orang-orang berharga, contohnya keluarga, untuk mencapai impiannya sendiri," kata Gloria menambahkan.
Meski mengangkat tema berat, pesan yang dibawa film ini tidak menghakimi. Menurut Gloria, tim justru ingin menyampaikan bermimpi adalah hal yang sah dan manusiawi asalkan disertai kesadaran penuh akan konsekuensinya.
"Kita itu boleh punya mimpi, kita boleh pengin apa saja. Tapi kita juga harus tahu apa dampak positif atau dampak negatif dari impian yang kita punya," tegasnya.
Baca Juga : Arisan Bodong Biduan Surabaya, Kedekatan Jadi Celah Penipuan
Di balik layar, proses kreatif film ini cukup berliku. Sebagai proyek kelompok, tim harus melalui rangkaian diskusi panjang sebelum menemukan cerita yang tepat.
Ide awal mereka berkisar pada tema keluarga, namun akhirnya bergeser ke genre drama. Referensi visual dan naratif mereka ambil dari film Pay It Forward serta sebuah serial asal Thailand.
"Kita banyak buang skrip, banyak buang ide-ide yang menarik juga," akui Gloria, menyebut proses tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan menemukan ide final yang solid.
Baca Juga : Yuk Jelajahi Kenjeran Park, Wisata Maritim dengan Ragam Wahana Hiburan
Ada satu detail menarik yang diungkap Gloria soal penamaan film. Berbeda dari kebiasaan umum, tim justru menetapkan nama karakter utama lebih dulu sebelum menentukan judul. Nama "Maya" dipilih karena maknanya yang kaya —merujuk pada konsep realita sekaligus ilusi.
"Fun fact, sebenarnya kita tentuin nama main karakter kita dulu, jadi judulnya belakangan. Nama Maya itu bersinambungan dengan realita atau ilusi, jadi kita angkat itu sebagai film," jelas Gloria.
Pemutaran Maya di BSM Rental menjadi salah satu bukti konkret mahasiswa Universitas Ciputra tidak hanya mampu memproduksi karya sinematik secara teknis, tetapi juga berani menyuarakan isu sosial yang relevan melalui medium film pendek dalam lingkup akademik.
Editor : Khasan Rochmad



















