Seorang pria di Kabupaten Blitar berhasil menyulap limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik yang tidak hanya murah dan menyuburkan tanaman, tetapi juga menjadi solusi atas kelangkaan pupuk subsidi. Inovasi ini bermula dari kepeduliannya terhadap lingkungan.
Kuswanto, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Udanawn, Kabupaten Blitar, telah mengubah limbah kotoran kambing dan puyuh menjadi produk pupuk organik bernilai ekonomi tinggi. Proses pengolahannya dilakukan dengan cara yang sederhana namun teliti.
Sebelum diolah, kotoran hewan tersebut dikeringkan terlebih dahulu dengan dijemur di bawah terik matahari. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kandungan air dan bau tidak sedap. Setelah kering, kotoran kambing dan puyuh dicampur, kemudian digiling hingga halus hingga siap digunakan untuk pemupukan.
"Teknik pengeringan dan pencampuran harus dilakukan dengan benar agar pupuk organik yang dihasilkan berkualitas," ujar Kuswanto.
Baca Juga : Nekat Racik Petasan di Mushola, Dua Remaja di Blitar Jadi Korban Ledakan
Kuswanto mengaku mulai memproduksi pupuk organik sejak tiga tahun lalu, dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak miliknya sendiri. Awalnya, pupuk itu hanya untuk keperluan pribadi. Namun, seiring waktu, banyak warga yang mulai memesan kepadanya. Selain harganya yang terjangkau dan ramah lingkungan, pupuk organik buatannya terbukti dapat meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas tanaman.
Untuk memenuhi pesanan yang terus meningkat, Kuswanto kini dibantu oleh dua orang pekerja. Dalam sehari, mereka mampu memproduksi lebih dari satu ton pupuk. Pupuk tersebut dijual dengan harga Rp 20.000 per sak yang berisi 25 kilogram.
Penggunaan pupuk organik seperti yang diproduksi Kuswanto tidak hanya menjadi solusi atas kelangkaan pupuk bersubsidi dan tingginya harga pupuk non-subsidi, tetapi juga dapat menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa limbah, jika diolah dengan tepat, dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi. (Moch. Asrofi)
Editor : JTV Kediri



















