SURABAYA - Lebaran identik dengan kehangatan. sanak saudara berkumpul, silaturahmi dengan handai taulan, tetangga kanan kiri. Suasana rumah lebih meriah dari biasanya, canda tawa bersahutan, dan di meja makan tersaji hidangan khas Idul Fitri.
Namun tidak semuanya menikmati, ada yang terpaksa belum bisa kumpul dengan keluarga, ada yang merasakan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, karena kehilangan orang yang disayangi. Bahkan, ada juga yang setelah seharian bersilaturahmi justru merasa lelah secara emosional. Di satu sisi Bahagia, di sisi lainnya terasa menguras energi. Mengapa bisa begitu?
Dalam perspektif psikologi dan komunikasi interpersonal, silaturahmi bukan hanya pertemuan fisik, tetapi juga pertemuan sistem emosi, identitas diri, nilai budaya, dan ekspektasi sosial dalam waktu yang bersamaan.
Keluarga sebagai sistem emosional. Berdasarkan teori Family Systems, yang dikemukan oleh Murray Bowen (1978), keluarga merupakan sistem emosional yang saling terhubung. Ketika satu anggota keluarga mengalami ketegangan, anggota lain dapat ikut terpengaruh. Moment Lebaran, seluruh sistem seakan aktif kembali. Tanpa disadari pola lama muncul kembali:
Baca Juga : Kaesang Pangarep Silaturahmi ke Bupati Kediri, Ngobrol Santai Usai Lebaran
- Anak sulung kembali merasa memikul tanggung jawab besar.
- Anak yang dulu dianggap “bandel” masih dilihat dengan label yang sama.
- Yang belum menikah kembali menjadi pusat perhatian.
Baca Juga : Silaturahmi, Walikota Malang Wahyu Hidayat dan Abah Anton Bahas Perkembangan Kota Malang
Di tengah tekanan relasi keluarga, pengendalian diri sangat dibutuhkan, termasuk stabil secara emosional. Bowen menekankan pentingnya seseorang memiliki differentiation of self, yaitu kemampuan tetap stabil secara emosional, meskipun berada dalam tekanan relasi keluarga.
Jika kemampuan ini rendah, seseorang mudah terseret dalam drama emosional lama. Inilah mengapa, ketika kembali berkumpul keluarga, meski secara usia sudah dewasa, seseorang bisa merasa kembali menjadi anak kecil.
Dalam konteks budaya jawa, kita mengenal istilah unggah-ungguh dan ewuh pakewuh. Sebenarnya makna dari nilai-nilai budaya ini positif, menjaga harmoni sosial, saling menghormati dan menyayangi. Namun kenyataannya demi menjaga sopan santun, yang terjadi banyak orang memilih diam, menahan perasaan, atau tersenyum kecil meskipun tidak nyaman, akhirnya menahan emosi. Akibatnya, emosi yang tidak tersalurkan secara sehat, yang muncul bukan konflik terbuka, tetapi kelelahan emosional yang terpendam.
Baca Juga : LSM Gerrindo Gelar Silaturahmi Nasional
Kenapa ini bisa terjadi? Dalam teori social comparison, Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai keberhasilan dan identitas diri. Di moment lebaran seringkali menjadi “panggung sosial” tak resmi:
- Siapa paling sukses?
- Siapa sudah menikah?
- Siapa kariernya paling mapan?
Ukuran kesuksesan seseorang tentunya berbeda-beda, namun dalam budaya kolektif seperti Indonesia, perbandingan ini semakin kuat karena identitas pribadi sering dikaitkan dengan penilaian keluarga besar. Upward comparison (membandingkan diri dengan yang dianggap lebih sukses) dapat memicu rasa tidak cukup. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini menimbulkan kecemasan sosial dan tekanan batin.
Memaafkan itu proses emosional. Tradisi saling memaafkan saat Idul Fitri sangat luhur. Menurut Everett Worthington (2006), memaafkan adalah proses psikologis yang melibatkan regulasi emosi dan kesadaran diri. Memaafkan bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi keputusan sadar untuk melepaskan beban emosional.
Dalam budaya Jawa, sering kali permintaan maaf dilakukan dengan bahasa yang sangat halus. Namun jika luka lama belum benar-benar diproses, silaturahmi justru bisa memunculkan kembali memori emosional tersebut.
Joseph A. DeVito (2016), dalam komunikasi interpersonal mengungkapkan, bahwa relasi yang sehat ditandai oleh keterbukaan, empati, dan kesetaraan. Budaya sungkan dan sopan santun, membuat seseorang sulit menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung. Misalnya ketika ada pertanyaan, kapan kawin? kapan nambah anak? sekarang kerja di mana?
Di sinilah komunikasi asertif menjadi penting. Asertif adalah keseimbangan antara menjaga harga diri dan menjaga harmoni. Asertif bukan berarti kurang ajar, tetapi menyampaikan sikap dengan tegas dan tetap santun. Misalnya:
Menjawab pertanyaan sensitif dengan senyum dan jawaban singkat.
- Menggunakan humor ringan untuk meredakan ketegangan.
- Mengalihkan topik tanpa mempermalukan lawan bicara.
- Moment lebaran sebagai latihan kecerdasan emosi. Menghadapi situsi seperti itu, kita harus mampu mengelola emosi ketika berinteraksi. Seperti yang diungkapkan oleh Daniel Goleman (1995) tentang Emotional Intelligence, pentingnya kesadaran diri dan pengelolaan emosi dalam interaksi sosial, karena silaturahmi sejatinya adalah latihan:
- Menahan reaksi impulsif
- Mengelola ekspektasi keluarga
- Menghargai perbedaan pilihan hidup
- Tetap tenang dalam tekanan sosial
Semakin tinggi kecerdasan emosi seseorang, semakin kecil kemungkinan ia merasa terkuras setelah bersilaturahmi.
Silaturahmi Lebaran bisa menghadirkan kebahagiaan karena mempererat hubungan dan memperkuat identitas keluarga. Namun ia juga bisa melelahkan karena mempertemukan kembali peran lama, perbandingan sosial, serta tekanan budaya yang menuntut harmoni.
Memahami dinamika ini membuat kita lebih bijak. Kelelahan emosional bukan tanda kurang iman atau kurang bersyukur. Ini adalah respons manusiawi dalam sistem relasi yang kompleks. Karena pada akhirnya, kemenangan Idul Fitri bukan hanya kembali suci secara spiritual, tetapi juga bertumbuh dalam kedewasaan emosi dan komunikasi. (*)
Oleh: Dr. Bawinda S Lestari, SH., M.Psi., CPS., Cht
Dosen Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Praktisi Psikologi Komunikasi
IG @itsbawinda
Daftar Pustaka
Bowen, M. (1978). Family Therapy in Clinical Practice. New York: Jason Aronson.
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Worthington, E. L. (2006). Forgiveness and Reconciliation: Theory and Application. New York: Routledge.
DeVito, J. A. (2016). The Interpersonal Communication Book. Pearson Education.
Bio Penulis
Dr. Bawinda S Lestari,SH.,M.Psi., CPS., Cht merupakan praktisi Psikologi Komunikasi yang fokus pada pengembangan kepribadian, etika interpersonal, dan kecerdasan emosi dalam konteks keluarga, pendidikan, dan organisasi. Aktif sebagai pembicara dan trainer dalam bidang komunikasi dan pengembangan diri.
Editor : M Fakhrurrozi



















