MAGETAN - Anjloknya harga telur di pasaran memicu aksi protes puluhan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Mereka turun ke jalan dan membagikan sekitar 3 ton telur secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi harga yang dinilai tidak berpihak pada peternak.
Aksi ini berlangsung di sejumlah titik dan langsung menarik perhatian warga. Ribuan butir telur dibagikan kepada pengguna jalan maupun masyarakat sekitar yang melintas.
Para peternak menyebut, harga telur saat ini berada di bawah harga pokok produksi (HPP), sehingga membuat usaha peternakan rakyat mengalami tekanan berat. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya harga pakan yang tidak sebanding dengan harga jual telur yang terus melemah.
“Harga telur sekarang sudah di bawah biaya produksi, sementara harga pakan terus naik. Ini sangat memberatkan peternak,” ujar Teguh Wahyudi, perwakilan peternak.
Menurut para peternak, kondisi di lapangan saat ini telah memasuki fase kelebihan produksi. Akibatnya, ribuan butir telur menumpuk di kandang karena tidak terserap pasar secara optimal.
Minimnya serapan pasar dinilai menjadi penyebab utama. Program penyerapan telur yang diharapkan mampu menstabilkan harga disebut belum berjalan maksimal, karena pembelian masih terbatas dan belum dilakukan secara konsisten.
Saat ini, harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah yang mencapai Rp26.500 per kilogram. Sementara itu, biaya produksi terus meningkat, terutama untuk pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan.
Aksi bagi-bagi telur ini juga menjadi simbol bahwa telur merupakan komoditas pangan penting yang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun ironisnya, produksi yang melimpah justru tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang memadai.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga dan memberikan perlindungan terhadap usaha peternakan rakyat. Mereka menilai produksi telur nasional saat ini sebenarnya sudah mencukupi, sehingga dibutuhkan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.
Peternak juga membuka kemungkinan akan menggelar aksi lanjutan apabila kondisi harga tidak segera membaik. Mereka berharap ada solusi nyata agar usaha peternakan rakyat tetap dapat bertahan di tengah tekanan harga dan melimpahnya produksi.
Editor : JTV Madiun



















