Menu
Pencarian


Festival Ronthek Pacitan 2026 Usung Konsep Panggung Berjalan, Penjurian Sepanjang Jalur

JTV Pacitan - Kamis, 16 Juli 2026 11:57
Festival Ronthek Pacitan 2026 Usung Konsep Panggung Berjalan, Penjurian Sepanjang Jalur
Festival Ronthek Pacitan siap digelar 17-19 Juli 2026. (Foto:Edwin Adji)

PACITAN - Festival Ronthek Pacitan 2026 siap digelar selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 Juli 2026. Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) melakukan sejumlah penyempurnaan konsep penyelenggaraan berdasarkan hasil evaluasi tahun sebelumnya dan masukan dari masyarakat.

Kepala Disparbudpora Pacitan, Muniirul Ichwan, mengatakan perubahan paling mencolok pada festival tahun ini berada pada sistem penjurian. Jika sebelumnya peserta berhenti di pos atraksi, kini penjurian dilakukan di sepanjang jalur dari SMPN 2 Pacitan hingga kawasan Penceng.

"Atas hasil evaluasi tahun 2025 dan juga masukan dari masyarakat, maka untuk tahun ini mulai dari SMP 2 sampai Penceng menjadi area penjurian. Artinya peserta ronthek di situ bisa menampilkan unjuk kebolehan, jadi tidak hanya berjalan," kata Muniirul.

Ia menjelaskan, lokasi pasti titik dewan juri masih dirahasiakan. Yang pasti, konsep penjurian tidak lagi menggunakan dua pos seperti tahun sebelumnya. "Jadi tidak ada pos dua. Area penjurian mulai dari SMPN 2 sampai di Penceng. Titik jurinya masih kita rahasiakan," ujarnya.

Baca Juga :   6.582 Gempa Tercatat Lima Tahun, BMKG Jadikan Pacitan Prioritas Penguatan Mitigasi

Meski ada perubahan konsep penjurian, Muniirul memastikan aspek penilaian tidak mengalami perubahan signifikan. Penilaian tetap mengacu pada kriteria yang selama ini digunakan dengan melibatkan dewan juri berkompeten.

"Kalau aspek penilaian secara umum sama. Untuk juri juga kita berusaha menghadirkan juri-juri yang kompeten, juri nasional, mulai dari akademisi, praktisi, hingga pengamat, baik dari lokal maupun luar kota," jelasnya.

Menurut Muniirul, konsep "panggung berjalan" yang diterapkan tahun ini merupakan upaya mengembalikan ruh asli kesenian ronthek sebagai tradisi masyarakat Pacitan. "Kalau kami istilahkan panggung berjalan itu sebenarnya usaha kami untuk mengembalikan ruh ronthek seperti ronthek tradisional pada umumnya. Jadi peserta berjalan sambil melantunkan musik, tidak hanya berhenti di pos atraksi, tetapi selama perjalanan juga bisa menampilkan unjuk kebolehan masing-masing," tuturnya.

Baca Juga :   BPBD Pacitan Siaga Hadapi Kekeringan, Pengajuan Bantuan Air Bersih Masih Nihil

Terkait penggunaan alat musik bambu yang menjadi ciri khas ronthek, Muniirul menambahkan seluruh unsur tersebut tetap menjadi perhatian dalam proses penilaian. "Apakah bambunya, bagaimana permainannya, tentu nanti ada beberapa aspek penilaian yang menjadi kewenangan dewan juri. Yang jelas aspek penilaian itu tetap ada," pungkasnya. (Edwin Adji)

Editor : JTV Pacitan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.