Dalam lanskap ekonomi nasional, sektor perikanan dan kelautan memegang peranan krusial sebagai variabel makroekonomi yang menopang ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat. Namun, saat ini masih terdapat disparitas yang lebar antara besarnya potensi sumber daya alam dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi berwirausaha. Pendekatan pedagogis konvensional di perguruan tinggi yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan teoretis tidak lagi relevan dalam menjawab tantangan disrupsi pasar. Oleh karena itu, institusi pendidikan tinggi perlu mereposisi perannya dari sekadar pusat akademik menjadi inkubator bisnis yang adaptif.
Sebagai manifestasi dari Tridharma Perguruan Tinggi, inisiasi pembentukan Entrepreneur Community di lingkungan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) hadir sebagai salah satu solusi konkret. Program ini didesain menggunakan pendekatan interdisipliner dengan mengintegrasikan mahasiswa dari Program Studi Akuakultur dan Teknologi Hasil Perikanan (THP). Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pembelajaran multidisiplin yang memampukan mahasiswa memahami rantai pasok industri perikanan secara komprehensif, mulai dari hulu (produksi/budidaya) hingga ke hilir (pengolahan dan komersialisasi).
Ajang pameran berskala besar seperti JTV Maritime Fest 2026 menjadi laboratorium sosial yang empiris bagi para mahasiswa. Keterlibatan mereka dalam eksibisi ini bukan sekadar simulasi, melainkan implementasi nyata dari strategi hilirisasi produk perikanan. Mahasiswa secara langsung memasarkan berbagai komoditas inovatif, meliputi produk siap masak (ready-to-cook), siap konsumsi (ready-to-eat), ikan hias, hingga ikan segar hasil budidaya kampus. Praktik ini menegaskan urgensi penciptaan nilai tambah (value added), di mana paradigma penjualan bahan mentah diubah menjadi produk turunan yang praktis, modern, dan bernilai ekonomi tinggi.
Dalam perspektif akademis, inovasi komersial harus selalu dilandasi oleh validitas saintifik. Oleh sebab itu, setiap komoditas perikanan—khususnya ikan segar hasil budidaya kolam FPK yang dipasarkan oleh mahasiswa—diwajibkan melewati prosedur uji klinis di Laboratorium Pangan milik FPK UNAIR. Penekanan pada jaminan keamanan pangan (food safety) dan kontrol mutu (quality control) ini penting untuk mengedukasi mahasiswa bahwa kepercayaan konsumen dalam ekosistem bisnis modern bersumber pada akuntabilitas serta standar higienitas yang terukur dan dapat dibuktikan.
Keberhasilan sebuah ekosistem wirausaha di lingkungan kampus juga sangat bergantung pada model mentorship yang holistik. Keterlibatan praktisi industri beserta alumni sukses yang memberikan coaching clinic secara langsung selama pameran berfungsi sebagai jembatan epistemologis. Pendampingan ini mentransfer pengetahuan rill dari lapangan mengenai manajemen risiko, taktik penetrasi pasar, hingga kalkulasi rasio profitabilitas yang kerap luput dari literatur di dalam kelas.
Secara makro-strategis, inisiatif wirausaha mahasiswa ini beresonansi kuat dengan grand design kebijakan pemerintah pusat. Akselerasi program Ketahanan Pangan Nasional dan mitigasi prevalensi stunting melalui kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) membutuhkan dukungan rill di akar rumput. Melalui diversifikasi produk olahan ikan yang terjangkau dan inovatif, mahasiswa FPK UNAIR secara efektif bertindak sebagai agen intervensi nutrisi di kawasan urban. Inisiatif ini juga membekali lulusan perguruan tinggi dengan kapasitas lebih untuk memberdayakan masyarakat sekitar, sehingga perekonomian lokal dapat ikut terangkat melalui aktivitas kewirausahaan alumni FPK UNAIR.
Konklusinya, pengintegrasian ekosistem wirausaha berdampak (impactful entrepreneurship) ke dalam kultur akademik merupakan investasi strategis bagi pembangunan SDM perikanan. Melalui eksposur bisnis sejak dini, perguruan tinggi tengah merekonstruksi pola pikir lulusannya: mendisrupsi kecenderungan dari sekadar pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) yang kompeten. Lulusan dengan kapabilitas kewirausahaan tinggi inilah yang kelak akan mengakselerasi roda ekonomi lokal dan mendorong kedaulatan sektor perikanan maritim di Indonesia. (*)
*) Terry Previo Avianto (Dosen Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga)
Editor : Iwan Iwe



















