SIDOARJO - Erupsi gunung Anak Krakatau memicu efek berantai pada jaringan penerbangan nasional, termasuk di Bandara Juanda Surabaya. Efek domino mulai dirasakan di Bandara Juanda sejak Minggu (6/9/2026) pagi. Dikutip dari Antara, sebanyak 42 penerbangan dari dan menuju Juanda dibatalkan akibat erupsi Anak Krakatau.
General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir mengatakan pembatalan terjadi akibat dampak berantai terhadap konektivitas dan rotasi pesawat dari sejumlah bandara yang terdampak aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Penyesuaian penerbangan dilakukan karena sejumlah bandara di wilayah lain mengalami gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada pergerakan pesawat yang terhubung dengan Bandara Juanda.
Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat, hingga Minggu (6/9/2026) sore, delapan bandara ditutup sementara akibat terdampak sebaran abu vulkanik secara langsung.
Delapan bandara dinyatakan ditutup sementara yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Husein Sastranegara Bandung, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam dan satu bandara lainnya di Sumatra Selatan.
Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sedikitnya 516 penerbangan terdampak penutupan sejumlah bandara akibat erupsi gunung Anak Krakatau.
Ditjen Perhubungan Udara menegaskan bahwa hak-hak penumpang yang terdampak akibat penutupan sementara bandara tetap harus dipenuhi oleh maskapai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Maskapai wajib memberikan pelayanan dan penanganan kepada penumpang terdampak, termasuk informasi mengenai perubahan status penerbangan serta pilihan penanganan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional. Penyesuaian dan pemulihan operasional penerbangan akan terus dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan kondisi abu vulkanik dan hasil koordinasi dengan BMKG serta pihak terkait. (*)
Editor : A. Ramadhan



















