BANYUWANGI - Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur bergerak cepat mengatasi kemacetan panjang kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Pasalnya, kemacetan tersebut berdampak serius terhadap jalur distribusi logistik dari Jawa Timur menuju Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Guna mengatasi kemacetan tersebut Dishub Jatim mendorong penambahan infrastruktur dermaga di Gilimanuk dan di Ketapang serta armada kapal untuk keperluan Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
Kemacetan ini dipicu oleh proyek perbaikan dan peningkatan kapasitas dermaga oleh ASDP, yang menaikkan daya dukung operasional dari 35 ton menjadi 50 ton. Meski bertujuan baik untuk jangka panjang, proses renovasi ini berdampak pada penurunan kapasitas tampung pelabuhan dalam jangka pendek.
Sebagai solusi cepat, Dishub Jatim meminta Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan untuk segera menambah jumlah dermaga dan jumlah kapal ekstra spesifik untuk keperluan operasional TBB.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, menegaskan bahwa penambahan armada untuk operasional TBB sangat mendesak agar distribusi logistik tidak lumpuh total. Saat ini, skema TBB baru dilayani oleh 9 kapal, yang dinilai tidak lagi mampu menampung volume kendaraan yang terus membeludak.
"Kami meminta kepada Dirjen Perhubungan untuk segera menambah jumlah dermaga dan kapal untuk operasi Tiba Bongkar Berangkat di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Saat ini kapal yang beroperasi untuk TBB ada 9 kapal, kami mendorong agar bisa ditambah menjadi 12 kapal," ujar Nyono saat dikonfirmasi mengenai kemacetan tersebut.
Nyono menambahkan bahwa selain menambah armada kapal, memperbanyak fasilitas dermaga darurat atau optimalisasi dermaga yang ada menjadi kunci utama untuk mengatasi kemacetan di Ketapang. Jika langkah taktis ini segera disetujui dan diterapkan, antrean panjang kendaraan yang mengular di kawasan pelabuhan diharapkan bisa segera teratasi dalam waktu singkat. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















