PACITAN - Kekeringan akibat musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih, salah satunya di Desa Sambong, Kecamatan Pacitan. Kemarau yang berlangsung sekitar delapan bulan membuat sejumlah sumber mata air warga mengering. Krisis air bersih bahkan telah dirasakan masyarakat Desa Sambong dalam dua bulan terakhir.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Satuan Lalu Lintas Polres Pacitan dalam rangka memperingati Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 tahun 2026. Pada Jumat pagi, Satlantas Polres Pacitan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Dusun Bengle, Desa Sambong. Sebanyak satu tangki air berkapasitas 5.000 liter didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Air yang dibawa menggunakan tangki kemudian dipindahkan ke tempat penampungan yang telah disiapkan. Warga pun mengantre untuk mendapatkan air bersih tersebut.
Kanit Turjawali Satlantas Polres Pacitan, Ipda Fendy Yud Priambodo, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
Baca Juga : Perubahan APBD 2026 Pacitan Disahkan, Belanja Daerah Tembus Rp1,638 Triliun
Menurutnya, Dusun Bengle dipilih karena kondisi masyarakat setempat cukup membutuhkan pasokan air bersih di tengah kemarau panjang.
“Penyaluran air bersih ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap masyarakat. Kami melihat wilayah ini memang membutuhkan bantuan air bersih karena sumber air warga sudah mulai mengering,” kata Ipda Fendy.
Bagi warga, bantuan tersebut menjadi angin segar di tengah sulitnya mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sutini, warga setempat, mengatakan sebelum sumber air mengering, masyarakat masih mengandalkan mata air yang lokasinya cukup jauh dari permukiman.
Baca Juga : Petik Laut Warnai HUT ke-28 PAN di Pacitan, Nelayan dan Warga Diajak Tasyakuran
Namun, kondisi berubah sejak kemarau berkepanjangan. Warga kini harus patungan membeli air bersih satu tangki berkapasitas sekitar 3.000 liter dengan harga Rp170 ribu. Air sebanyak itu pun tidak mampu memenuhi kebutuhan warga dalam waktu lama.
“Biasanya kami patungan untuk membeli air. Satu tangki harganya Rp170 ribu dan itu paling hanya cukup untuk tiga hari. Setelah itu kalau ada uang kami beli lagi, kalau tidak ya menunggu bantuan,” ujar Sutini.
Krisis air bersih di Desa Sambong ternyata tidak hanya terjadi di Dusun Bengle. Dari total 12 dusun yang ada, pemerintah desa mencatat sedikitnya tiga dusun menjadi wilayah yang paling terdampak. Ketiga wilayah tersebut yakni Dusun Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung.
Baca Juga : 46 Satuan Drumband Ramaikan Pacitan Night Marching Parade 2026, Jadi Ruang Pembinaan Generasi Muda
Kepala Desa Sambong, Agus Rianto, mengatakan ketiga dusun tersebut selama ini sangat bergantung pada sumber-sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kemarau panjang membuat sumber air tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga.
“Dari 12 dusun, ada tiga dusun yang saat ini paling terdampak, yaitu Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung. Tiga wilayah ini memang masih menjadi kendala kami dalam menangani krisis air bersih saat musim kemarau,” jelas Agus.
Agus menambahkan, sebelumnya warga masih dapat mengandalkan sejumlah sumber mata air yang berada di sekitar wilayah permukiman. Namun, hampir delapan bulan tanpa hujan membuat sumber-sumber tersebut ikut mengering.
Baca Juga : Gema Watu Kendang MI GUPPI Jatimalang Sabet Juara 3 Pacitan Night Marching Parade 2026
“Tadinya warga mengandalkan sumber-sumber mata air. Tetapi karena hampir delapan bulan tidak ada hujan, sumber-sumber itu sekarang sudah mengering,” pungkasnya. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















