Bel sekolah berbunyi, pelajaran dimulai. Namun, alih-alih menyimak guru di depan kelas, beberapa siswa malah asyik dengan layar ponsel mereka. Pemandangan ini kini menjadi hal lumrah di ruang kelas. Memang, sekolah mewajibkan siswa membawa gawai dengan alasan bahwa pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman. Sekolah menyadari bahwa dunia telah berubah dan teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Cara belajar pun ikut berubah. Kehadiran gawai dianggap sebagai terobosan dan langkah maju yang disambut antusias oleh banyak pihak.
Namun, di balik itu, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah sekolah sudah benar-benar siap?
Saya tidak menolak gagasan itu. Menutup mata terhadap perkembangan teknologi bukanlah pilihan. Anak-anak kita lahir di era serbadigital dan tugas sekolah adalah membantu mereka belajar hidup di dalamnya. Di banyak sekolah, penggunaan telepon genggam masih berjalan tanpa arah yang benar-benar jelas. Guru didorong memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, tetapi belum semua memperoleh pelatihan yang memadai. Sekolah mengizinkan penggunaan gawai, tetapi aturan mengenai kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa gawai digunakan sering kali belum disepakati secara tegas. Orang tua diminta mendukung, tetapi tidak sedikit yang kebingungan membedakan kapan anak benar-benar belajar dan kapan hanya larut dalam media sosial atau permainan daring.
Di sinilah persoalan itu bermula. Gawai yang semula dihadirkan sebagai sarana belajar perlahan berubah menjadi sumber distraksi. Fokus belajar mudah terpecah oleh notifikasi yang terus bermunculan. Konsentrasi yang seharusnya tertuju pada guru dan teman sekelas berpindah ke ruang digital yang tidak pernah benar-benar berhenti menawarkan hiburan.
Baca Juga : Dukung Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah, Bapak-Bapak Padati TK di Jombang
Banyak kebiasaan yang perlahan mulai memudar tanpa kita sadari. Dulu, waktu istirahat adalah ruang bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi, bertukar pikiran, bermain, atau sekadar tertawa melihat hal yang lucu. Hari ini, sebagian momen itu perlahan mulai tergantikan oleh kebiasaan menatap gawai masing-masing. Ironisnya, teknologi yang seharusnya mendekatkan justru kadang menciptakan jarak. Memang, anak-anak masih berkumpul, tetapi obrolan semakin singkat. Mereka hadir secara fisik, tetapi perhatian dan pikirannya lebih banyak berada di balik layar.
Digitalisasi memang membawa banyak kemudahan. Materi pelajaran dapat diakses kapan saja, tugas dikumpulkan tanpa harus bertatap muka, dan berbagai informasi tersedia hanya dalam hitungan detik. Namun, pendidikan bukan hanya soal seberapa cepat seseorang memperoleh informasi. Pendidikan juga tentang proses menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, berempati, bertanggung jawab atas setiap tindakannya, serta mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Karena itu, kebijakan membawa gawai ke sekolah tidak cukup hanya didasarkan pada kebutuhan teknologi. Kebijakan tersebut harus diiringi dengan aturan yang jelas, pendampingan yang konsisten, serta pendidikan literasi digital yang mengajarkan etika dan tanggung jawab. Sekolah perlu menyediakan ruang-ruang tempat anak-anak dapat berinteraksi tanpa perantara layar.
Baca Juga : Di Balik Layar Gawai, Apa yang Hilang dari Sekolah?
Sekolah tidak hanya bertugas melahirkan anak-anak yang cerdas secara akademis dan terampil menggunakan teknologi, tetapi juga pribadi yang utuh, yang mampu membawa nilai-nilai kemanusiaan ke mana pun mereka melangkah. Gawai hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, guru, dan lingkungan sekolah.
Maka, sebelum kita bertanya apakah semua siswa sudah membawa gawai ke sekolah, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab: di balik layar gawai yang terus menyala, adakah ruang yang masih kita sisakan untuk anak-anak belajar menjadi manusia? (*)
Oleh: Nahdiyan Tri Yustia
Editor : Iwan Iwe

















