Oleh: Adista Nur Primantari
Perayaan Idulfitri di berbagai daerah di Provinsi Jawa Timur diwarnai dengan berbagai tradisi yang diwariskan turun temurun. Setelah salat Idulfitri selesai ditunaikan, umat Muslim di Surabaya dan sekitarnya akan mengunjungi orang tua dan kerabat dalam tradisi yang disebut unjung-unjung. Di Jawa Tengah, praktik ini disebut dengan istilah ujung. Istilah ini telah masuk menjadi warga Bahasa Indonesia dan dapat ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi VI dengan makna ‘tradisi berkunjung untuk bersilaturahmi ke rumah orang yang lebih tua pada Idulfitri’.
Masyarakat Using Banyuwangi juga mengenal istilah unjung-unjung ini dan akan mengatakan begini Iyane unjung-unjung bangêtê lebaran ‘Dia berkunjung saat hari raya’. Uniknya, walaupun sama-sama berbahasa Jawa, di Kediri dan Tulungagung yang berdialek Mataraman, tradisi ini disebut dengan ngelencer. Seorang warga Kediri akan mengatakan Ayo ngelencer nyang nggone Pakde! ‘Ayo berkunjung ke rumah Pakde!’ jika mengajak kita.
Dalam tradisi kunjung-mengunjungi ini, masyarakat di Pulau Madura akan mengatakan Lagghu’ mayu namoy ka bengkona Maryâmi ‘Ayo besok bertamu ke rumah Maryami!’. Di pulau garam, unjung-unjung disebut dengan moy-namoy.
Saat berkunjung, orang yang lebih muda membawa ater-ater berupa bahan sembako dan makanan. Dalam KBBI, ater-ater didefinisikan sebagai ‘membagikan makanan kepada saudara yang dianggap lebih tua atau orang yang dihormati sebagai penghormatan’. Jika ater-ater adalah pemberian dari yang muda kepada yang tua, generasi muda akan memberikan uang jajan dalam amplop warna-warni yang disebut sangu riyayan di daerah Jawa Timur yang berdialek Jawa Mataraman, galak gampil di daerah Malang, dan picis di Banyuwangi. Di Jawa Tengah, uang saku ini dikenal istilah fitrah atau pitrah sehingga seorang simbah di Klaten akan mengatakan begini kepada cucunya Mreneo, Nduk, iki dipitrahi Mbahe ‘Kesini, Nduk, ini diberi uang saku oleh Mbah.’
Disadur dari Kompas.id, tradisi galak gampil konon sudah ada di Surabaya dan Malang sejak tahun 1970-an. Istilah ini muncul dan dipercayai memiliki makna tertentu, yaitu kata galak yang bermakna ‘menggalakkan’ dan gampil ‘mudah’, mengisyaratkan agar umat Muslim mudah memaafkan saudaranya saat Idulfitri. Dengan keragaman tradisi dan budaya di Jawa Timur, perayaan Idulfitri terasa sangat meriah dan penuh kehangatan.
Editor : Iwan Iwe



















