PACITAN - Suara kicau burung murai batu terdengar bersahutan dari sebuah penangkaran di Lingkungan Bleber, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Di lokasi sederhana itulah Eko Wahyudi (52) berhasil membangun usaha penangkaran burung murai batu yang kini berkembang hingga ratusan ekor dan menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi keluarganya.
Siapa sangka, usaha yang kini menghasilkan cuan jutaan rupiah tersebut justru lahir dari masa sulit pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Saat banyak sektor usaha lesu dan pendapatan menurun, bapak dua anak itu memilih memanfaatkan hobinya memelihara burung untuk dijadikan peluang usaha baru.
Berbekal keberanian dan modal awal hanya sepasang murai batu, Eko mulai serius menekuni dunia penangkaran sejak tahun 2020. Perlahan namun pasti, usaha yang awalnya sekadar coba-coba itu kini berkembang pesat hingga memiliki lebih dari 200 ekor burung murai batu dari berbagai jenis.
“Awalnya cuma hobi pelihara burung biasa. Waktu pandemi pekerjaan sepi, akhirnya saya coba serius di penangkaran murai batu. Alhamdulillah sekarang bisa berkembang sampai ratusan ekor,” ujar Eko ditulis Kamis, (14/05) pagi.
Baca Juga : Harga Dexlite Naik, Operasional Angkut Sampah di Pacitan Ikut Terdampak
Di penangkarannya, Eko membudidayakan sejumlah jenis murai batu bernilai tinggi yang banyak diminati para pecinta burung kicau. Di antaranya murai Nias dan murai Medan asal Sumatra yang terkenal memiliki karakter suara bagus, mental kuat, dan bentuk ekor panjang yang menjadi daya tarik tersendiri.
Setiap hari, Eko menghabiskan waktunya merawat burung-burung tersebut. Mulai membersihkan kandang, memantau kondisi indukan, hingga memastikan kebutuhan pakan terpenuhi dengan baik. Menurutnya, keberhasilan penangkaran murai batu sangat bergantung pada ketelatenan dan konsistensi perawatan.
Meski terlihat menguntungkan, proses pengembangbiakan murai batu ternyata tidak mudah. Dalam satu kali masa produksi, seekor indukan biasanya hanya mampu menghasilkan dua hingga tiga ekor anakan. Bahkan tidak semua anakan dapat tumbuh sempurna jika perawatan kurang maksimal.
Baca Juga : Jaksa Hadirkan 18 Saksi dalam Sidang Korupsi Proyek Penanganan Banjir Arjosari
Anak burung yang baru menetas harus dipanen saat berusia sekitar tujuh hari. Selanjutnya, anakan dirawat secara intensif menggunakan lampu penghangat hingga berusia lima minggu agar kondisi tubuh tetap stabil dan terhindar dari kematian dini.
Setelah cukup kuat, anakan kemudian dipindahkan ke kandang terpisah guna mengurangi risiko stres serta mempercepat proses pertumbuhan. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas burung agar memiliki postur dan suara yang baik saat dewasa.
“Perawatannya memang harus telaten dan sabar. Kalau terlambat kasih makan atau salah penanganan bisa berpengaruh ke pertumbuhan burung. Pakannya juga tidak bisa sembarangan,” jelas Eko.
Baca Juga : Kredit Fiktif PNM Mekaar, Kejari Pacitan Geledah Kantor dan Rumah Mantan AO
Untuk menjaga kualitas suara dan kesehatan burung, Eko tidak hanya mengandalkan pakan pabrikan berupa voer. Ia juga rutin memberikan pakan tambahan alami seperti jangkrik dan cacing yang dipercaya mampu meningkatkan stamina serta kualitas suara murai batu.
Tak hanya fokus pada murai batu bersuara merdu, Eko kini juga mulai mengembangkan murai batu dengan warna-warna langka yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Jenis tersebut di antaranya murai panda, albino, dan kremino yang saat ini semakin banyak diburu kolektor.
Menurut Eko, permintaan pasar terhadap murai batu terus mengalami peningkatan, terutama dari luar daerah. Bahkan hasil penangkarannya kini tidak hanya dipasarkan di Pacitan, tetapi juga dikirim ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya hingga Batam.
Baca Juga : Penjual Tempe di Pacitan Diduga Jadi Korban Penyiraman Air Keras OTK
Harga jual burung pun cukup fantastis, tergantung jenis, kualitas suara, warna, hingga keturunan indukan. Untuk murai batu standar, harga dibanderol mulai Rp1 juta per ekor. Sedangkan murai dengan kualitas unggulan dan warna langka bisa mencapai Rp10 juta per ekor.
“Kalau harga tergantung kualitas burungnya. Yang standar sekitar satu jutaan, tapi kalau yang bagus atau warna langka bisa sampai sepuluh juta rupiah. Pembeli juga banyak dari luar kota,” imbuhnya.
Di tengah tingginya nilai ekonomi murai batu, Eko juga tetap memiliki kepedulian terhadap kelestarian satwa tersebut. Ia mengaku rutin melepasliarkan beberapa pasang murai batu ke habitat alaminya setiap tahun sebagai bentuk kontribusi menjaga populasi burung di alam liar.
Baca Juga : Tiga ODGJ Asal Pacitan Kembali Diberangkatkan ke Yayasan Rehabilitasi di Lamongan
“Menurut saya penangkaran ini bukan cuma soal bisnis atau mencari keuntungan. Tapi juga bagaimana burung murai batu tetap lestari dan tidak punah,” katanya.
Ketelatenan dan kegigihan Eko membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius mampu menjadi peluang usaha menjanjikan. Dari suara kicau burung murai batu, kini ia berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi dan menciptakan sumber penghasilan baru yang terus berkembang. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan

















