NGAWI - Kabupaten Ngawi tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan hasil pertaniannya, tetapi juga memiliki kuliner tradisional yang khas, salah satunya adalah cemue. Minuman hangat ini menjadi sajian favorit masyarakat, terutama saat cuaca dingin atau memasuki musim penghujan.
Sekilas, cemue tampak mirip dengan sekoteng. Namun, minuman ini memiliki cita rasa dan komposisi yang berbeda. Cemue terbuat dari campuran santan, jahe, gula merah, dan daun pandan yang direbus hingga menghasilkan aroma harum yang kuat. Kuah hangat tersebut kemudian disajikan bersama potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, serta taburan bawang merah goreng di atasnya. Penggunaan bawang merah goreng inilah yang menjadi ciri khas utama cemue dan membedakannya dari minuman hangat lainnya di Jawa Timur.
Di berbagai wilayah Kabupaten Ngawi, cemue kerap dijajakan oleh pedagang kaki lima pada sore hingga malam hari. Minuman ini biasanya disajikan dalam mangkuk kecil; potongan roti dan kacang diletakkan di dasar wadah, lalu disiram kuah hangat perpaduan santan dan jahe. Aroma harum langsung tercium saat kuah dituangkan, berpadu sempurna dengan wangi bawang merah goreng yang menggugah selera.
Jika dibandingkan dengan sekoteng atau ronde yang lebih dikenal luas, cemue memiliki karakter rasa yang lebih gurih karena penggunaan santan yang cukup dominan. Teksturnya pun lebih lembut karena menggunakan roti tawar, bukan bola ketan layaknya ronde. Keunikan inilah yang membuat cemue memiliki identitas tersendiri di antara deretan minuman tradisional Jawa.
Baca Juga : Cemue, Wedang Gurih Khas Ngawi yang Unik dengan Taburan Bawang Merah Goreng
Dari sisi harga, cemue tergolong sangat terjangkau. Di berbagai lapak tradisional, minuman ini umumnya dibanderol mulai dari kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi. Harga yang ramah di kantong ini menjadikannya camilan malam yang merakyat bagi semua kalangan.
Sebagai kuliner tradisional, cemue telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Ngawi. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah yang patut dilestarikan. Di tengah maraknya minuman kekinian, cemue tetap memiliki tempat tersendiri karena cita rasanya yang sederhana namun kaya akan perpaduan rasa.
Perpaduan manis gula merah, hangatnya jahe, serta sentuhan gurih dari kacang dan bawang goreng menjadikan cemue tak sekadar minuman penghangat tubuh, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner Ngawi yang terus bertahan hingga kini. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















