SURABAYA - Penampilan grup hip-hop asal Ponorogo, Kajawi, dalam screening film mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya pada Kamis (21/5) menjadi sorotan setelah lagu mereka, “Menteri Durmagati”, dipilih sebagai soundtrack film Pakaryan.
Kajawi mengaku bangga karena lagu mereka dapat menjadi bagian dari karya film mahasiswa. Terlebih, menurut mereka, lagu “Menteri Durmagati” memiliki keselarasan tema dengan film Pakaryan, yakni sama-sama mengangkat keresahan sosial yang dekat dengan masyarakat.
Bagi tim Pakaryan, pemilihan lagu Kajawi bukan sekadar karena viral di media sosial. Mereka menilai Kajawi memiliki identitas kuat melalui penggunaan bahasa Jawa serta kritik sosial yang diangkat dalam lirik-liriknya. Hal tersebut dianggap sejalan dengan film Pakaryan yang juga menggunakan bahasa Jawa dan mengangkat persoalan penyelewengan proyek di lingkungan masyarakat.
Baca Juga : Resiprokal, Kisah Penjual dan Pembeli Bakso dalam Sebuah Tari
Produser Pakaryan, Safir, mengatakan penggunaan lagu Kajawi diharapkan dapat memperkuat suasana sekaligus identitas budaya dalam film. Menurutnya, baik Pakaryan maupun karya-karya Kajawi sama-sama berangkat dari realitas sosial yang dekat dengan masyarakat Jawa.
“Dari beberapa kesamaan inilah kami ingin membawa budaya lokal ke audiens yang lebih luas. Karena penggunaan lagu dari Kajawi ini memberikan kekuatan tambahan untuk film kami,” tuturnya.
Ketertarikan tim Pakaryan bermula setelah lagu “Menteri Durmagati” viral di berbagai platform media sosial. Mereka kemudian mencoba menghubungi Kajawi melalui Instagram dan menjelaskan bahwa film tersebut merupakan proyek mahasiswa.
Baca Juga : Teater Institut Unesa Sajikan Ave Saturnus, Kritik Pola Pemilihan Kepala Daerah dan Presiden
Safir mengaku sejak awal dirinya berterus terang kepada Kajawi terkait latar belakang produksi film tersebut. Menurutnya, keterbukaan itu justru membuat proses kolaborasi berjalan lebih dekat dan hangat.
Sementara itu, pihak Kajawi menyambut baik ajakan tersebut. Mereka mengaku terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi, terutama dengan komunitas kreatif anak muda.
“Kami sangat terbuka untuk berbagai kolaborasi karena sama-sama ingin membangun lewat karya yang kami miliki,” ujar Muheim, salah satu personel Kajawi
Baca Juga : Film Sangkar yang Berpindah Soroti Perempuan dan Kebebasan
Lagu “Menteri Durmagati” dan film Pakaryan sama-sama menghadirkan kritik sosial terkait proyek dan praktik penyelewengan yang terjadi di masyarakat. Menurut Kajawi, beberapa dialog dalam film terasa sangat selaras dengan lirik yang mereka bawakan dalam lagu tersebut.
Keselarasan antara dialog film dan lirik lagu membuat soundtrack terasa menyatu dengan suasana cerita yang dibangun dalam Pakaryan. Tak hanya itu, penggunaan lagu dalam film tersebut juga menjadi pengalaman pertama bagi Kajawi sebagai soundtrack film. Mereka pun membuka peluang untuk kolaborasi lain di masa mendatang.
Bagi Kajawi dan tim Pakaryan, kolaborasi ini bukan hanya soal penggunaan soundtrack semata. Lebih dari itu, mereka ingin menunjukkan bahwa komunitas kreatif anak muda dapat saling mendukung untuk membawa karya berbasis budaya Jawa dikenal lebih luas.
Baca Juga : Film Pakaryan Gandeng Kajawi, Satukan Kritik Sosial dalam Musik dan Film
“Kalau tidak ada sinergi, harus dengan siapa lagi kita membangun budaya kita sendiri,” pungkas tim Kajawi.(Luluk Listiani)
Baca Juga : Film Di Ujung Pematang Angkat Bobroknya Birokrasi Desa
Editor : Iwan Iwe



















