Menu
Pencarian

Brokohan Kendaraan Baru: Simbol Syukur dan Doa Keselamatan Warga Ngawi di Tengah Modernisasi

Portaljtv.com - Kamis, 5 Maret 2026 09:00
Brokohan Kendaraan Baru: Simbol Syukur dan Doa Keselamatan Warga Ngawi di Tengah Modernisasi
Tradisi Brokohan Kendaraan Baru, Masih Bertahan di Ngawi

NGAWI - Tradisi brokohan tidak hanya identik dengan kelahiran anak dalam masyarakat Jawa. Dalam praktiknya, brokohan juga kerap dilakukan saat seseorang memperoleh rezeki atau memulai fase baru dalam hidupnya. Di Kabupaten Ngawi, sebagian warga masih teguh menjalankan tradisi ini saat membeli kendaraan baru, baik sepeda motor maupun mobil.

Bagi masyarakat setempat, tradisi ini merupakan bentuk nyata rasa syukur atas rezeki yang diperoleh, sekaligus permohonan doa agar kendaraan tersebut membawa keselamatan bagi pemilik dan keluarganya.

Prosesi Sederhana yang Sarat Kebersamaan

Brokohan biasanya digelar secara sederhana di rumah pemilik kendaraan dengan mengundang tetangga dan kerabat dekat. Meski tidak bersifat wajib, tradisi ini masih cukup sering dijumpai di wilayah perdesaan yang ikatan sosial antarwarganya masih sangat erat.

Sebelum doa dimulai, tuan rumah menyiapkan berbagai hidangan tradisional sebagai syarat utama. Sajian tersebut umumnya meliputi:

  • Tumpeng dan Ingkung: Ayam panggang utuh sebagai simbol kemantapan niat.
  • Sayur Lombok: Hidangan mirip lodeh dengan cita rasa khas.
  • Mi Goreng dan Kulupan (Urap-urapan): Simbol kemakmuran dan kesegaran.
  • Pisang dan Jajanan Pasar: Pelengkap yang melambangkan keramah-tamahan.

Setiap hidangan yang disiapkan tidak sekadar untuk disantap bersama, tetapi dimaknai sebagai simbol berbagi rezeki guna mempererat tali silaturahmi.

Ritual Air Kembang dan Doa Keselamatan

Selain makanan, unsur penting lainnya adalah air yang dicampur dengan aneka kembang (bunga). Prosesi doa biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh setempat. Suasana berlangsung khidmat saat harapan-harapan dipanjatkan agar kendaraan dijauhkan dari mara bahaya dan sang pemilik senantiasa diberi perlindungan dalam aktivitas sehari-hari.

Setelah pembacaan doa selesai, air kembang yang telah didoakan tersebut kemudian disiramkan ke kendaraan. Ritual ini menjadi simbol permohonan perlindungan lahir dan batin sebelum kendaraan resmi digunakan di jalan raya.

Menjaga Tradisi di Era Modern

Di tengah perkembangan zaman dan gaya hidup modern, brokohan kendaraan memang tidak lagi dilakukan oleh semua kalangan. Namun, bagi sebagian masyarakat Ngawi, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai pengingat bahwa setiap rezeki yang diterima perlu disertai dengan kerendahan hati dan doa.

Keberadaan brokohan membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dan sosial masih memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat, menjadi penyeimbang di tengah laju teknologi yang semakin cepat. (Amanda Dela)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.