Menu
Pencarian


BPBD Jatim Catat 5.930 Pesantren Berisiko Tinggi Bencana

Ayul Andhim - Sabtu, 10 Oktober 2026 17:04
BPBD Jatim Catat 5.930 Pesantren Berisiko Tinggi Bencana
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menyampaikan pemaparan dalam FGD Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) di Sidoarjo, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

SURABAYA - Sebanyak 5.930 dari total 7.430 pondok pesantren di Jawa Timur berada di wilayah dengan potensi risiko bencana kategori tinggi. Data tersebut menjadi dasar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur untuk merintis program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana).

Untuk merancang pedoman pelaksanaan program tersebut, BPBD Jatim bersama Siap Siaga Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pesantren Tangguh Bencana di Hotel Neo, Sidoarjo, Jumat (9/10/2026).

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan, gagasan pembentukan Pestana menjadi salah satu tindak lanjut dari berbagai kejadian bencana yang menimpa pondok pesantren di Jawa Timur dalam setahun terakhir. Salah satunya adalah runtuhnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada 29 September 2025.

"Berdasar data Kemenag Jatim per hari ini, jumlah pondok pesantren di Jatim berjumlah sebanyak 7.430 pesantren. Setelah kita overlay dengan multi hazard bencana, tercatat sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko tinggi," ujarnya.

Menurut Gatot, penyusunan pedoman pembentukan Pestana penting untuk mendorong kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jatim, H. Imam Turmidi. Ia menilai, program Pestana diperlukan karena banyak pondok pesantren berada di wilayah rawan bencana.

"Kalau jumlah santrinya sekitar 660.437 santri. Jumlah yang banyak ini tentu sangat komplek sekali karena mayoritasnya berada di daerah rawan bencana sebagaimana data BPBD Jatim," ujarnya.

Imam mengapresiasi dan mendukung upaya BPBD Jatim dalam merintis program pembentukan Pestana.

Sementara itu, Ketua Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah (RMI) PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Hidayat, menilai pelatihan kebencanaan perlu diberikan kepada lingkungan pesantren untuk meningkatkan kesiapsiagaan santri dan pengelola.

"Saya kira, 80 persen pondok pesantren di Jawa Timur ini merupakan pesantren NU. Maka, perlu sekali dilakukan pelatihan agar pesantren semakin tangguh dan siaga terhadap bencana," ujarnya.

FGD tersebut juga dihadiri perwakilan LPBI NU Jatim, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jatim, MDMC Muhammadiyah, SRPB Jatim, IGI Jatim, BPBD kabupaten/kota, serta sejumlah pondok pesantren. Beberapa pesantren yang hadir di antaranya Ponpes Langitan Tuban, Ponpes Amanatul Ummah, dan Ponpes At-Taroqi Sampang.

Adapun pemateri dalam kegiatan tersebut meliputi pejabat fungsional ahli madya BPBD Jatim, Dadang Iqwandy; perwakilan Siap Siaga Jatim, Iswar Abidin; serta Kepala Laboratorium Struktur ITS Surabaya, Aniendhita Rizki Amalia.

Melalui FGD ini, BPBD Jatim bersama para pemangku kepentingan merumuskan pedoman pembentukan Pestana sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana di lingkungan pondok pesantren. (*)

Editor : A. Ramadhan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.