JAKARTA - Berdasarkan data pemantauan laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026 yang diterbitkan oleh Bank Dunia, Indonesia tercatat memiliki tingkat kemiskinan yang relatif tinggi dibandingkan sejumlah negara berpendapatan menengah atas lainnya. Sebanyak 64,2% penduduk Indonesia diproyeksikan hidup di bawah garis kemiskinan US$ 8,30 per kapita per hari.
Perhitungan tersebut menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP) 2021 atau keseimbangan kemampuan berbelanja guna menyesuaikan perbedaan harga barang serta biaya hidup antarnegara, bukan dikonversi menggunakan kurs mata uang biasa. Standar US$ 8,30 PPP tersebut setara dengan pengeluaran sekitar Rp 1,51 juta per orang setiap bulannya di Indonesia.
Capaian tersebut menempatkan posisi Indonesia di urutan keempat tertinggi di kawasan ASEAN dan negara peers berkembang di bawah Timor-Leste, India, dan Laos. Berdasarkan laporan tersebut, rincian tingkat kemiskinan negara berkembang mencakup:
- Indonesia: 64,2 persen
- Afrika Selatan: 60 persen
- Filipina: 56,5 persen
- Iran: 36,2 persen
- Meksiko: 21,1 persen
- Brasil: 20,4 persen
- Vietnam: 17,9 persen
- Argentina: 14,5 persen
- Thailand: 10,1 persen
- Malaysia: 1 persen
Meskipun demikian, tingkat kemiskinan di Indonesia diproyeksikan terus menunjukkan tren penurunan dari 64,2% pada tahun 2026 menjadi 63,1% pada tahun 2027, serta 62% pada tahun 2028. Angka proyeksi internasional ini berbeda dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) karena BPS menggunakan pendekatan kebutuhan dasar nasional yang disesuaikan dengan kondisi riil di dalam negeri. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















