Pagi di sebuah kandang sapi perah di Jawa Timur membuka hari lebih awal untuk beberapa orang. Suara langkah kaki di lantai kandang, napas ternak yang perlahan menghangatkan udara menjadi bagian dari rutinitas. Di tempat inilah, perjalanan produk susu dimulai, bukan hanya sebagai konsumsi, tetapi sebuah bentuk ketekunan, pilihan hidup, juga ketangguhan para peternak yang menjalaninya setiap hari.
Jawa Timur menjadi salah satu sentra utama produksi susu sapi perah di Indonesia. Di balik kuatnya ekosistem ini, ada peran peternak rakyat yang setiap hari memastikan kualitas susu tetap terjaga sejak dari kandang. Di antara mereka, perempuan mengambil peran yang tidak terpisahkan, dari generasi yang memulai dari nol hingga kini mengembangkan usaha dengan pendekatan yang lebih modern, bersama dukungan dari Nestlé Indonesia melalui tim Milk Procurement & Dairy Development (MPDD).

Salah satunya adalah Siyanah (56), peternak yang memulai usahanya sejak tahun 1997 hanya dengan satu ekor sapi. Sebagai Ibu rumah tangga dengan tiga anak, Ia menjajaki pilihan untuk beternak demi menambah penghasilan keluarga. Tanpa lahan dan pengetahuan yang memadai, Ia memulai semuanya dari nol, bahkan harus membagi waktu dengan keluarga untuk merumput pakan ternak sendiri.
Perjalanannya tidak selalu berjalan dengan mudah. Ujian terberat datang saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda, di mana Ia harus kehilangan satu ekor sapi, sementara beberapa lainnya terpaksa dijual. Namun, melalui pendampingan intensif dari tim MPDD Nestlé Indonesia bersama koperasi daerah setempat, Ia mulai bangkit. Ia mendapatkan dukungan berupa obat-obatan, penanganan kesehatan ternak, serta pendampingan langsung di kandang. Seiring itu, Siyanah juga belajar menyusun komposisi pakan yang seimbang, memahami pentingnya nutrisi, serta menerapkan manajemen kesehatan ternak yang lebih terstruktur. Perlahan, perubahan mulai terlihat. Produksi susu meningkat, dan kondisi sapi menjadi lebih sehat. Dari satu ekor sapi, kini ia memiliki sekitar 24 sapi perah dan 6 sapi dara.

“Kami bekerja karena sayang sama sapinya,” ujarnya.
Cerita serupa juga datang dari Yuni Purwati (43), yang memulai beternak pada 2002 dengan dua ekor sapi, sebagai upaya untuk menambah penghasilan keluarga setelah menikah. Di awal perjalanan, Ia menghadapi tantangan dalam membagi waktu terlebih pada saat itu dengan kewajiban rumah tangga. Kesehariannya yang sudah padat, harus dibagi dengan kegiatan beternak.
Terlebih saat wabah PMK melanda, Yuni harus merawat sapi yang sakit dari pagi hingga malam, memberikan tekanan mental yang tidak ringan. Saat Ia menjadi salah satu mitra peternak Nestlé Indonesia, Ia merasakan perbedaan yang signifikan. Tim MPDD dari Nestlé Indonesia mendampingi mulai dari bantuan teknis hingga langsung membantu menangani sapi-sapinya. Berbagai bentuk dukungan juga diberikan, berupa mesin perah, sistem penyedian air minum otomatis, dan renovasi kandang untuk sirkulasi udara yang lebih baik.
Kandang yang sebelumnya sederhana kini telah dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan ternak. Perubahan ini berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas susu. Kini, dengan sekitar 10 ekor sapi, Yuni mampu menghasilkan produksi susu yang setara dengan peternak lain yang memiliki jumlah sapi yang lebih banyak. Ia juga melihat pekerjaannya sebagai sesuatu yang bermakna, karena hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Sementara itu, generasi muda perempuan juga mulai mengambil peran dalam dunia peternakan. Zuliyanti (25) peternak asal Tulungagung, memulai perjalanannya pada 2021 saat perkuliahan dilakukan secara daring. Bersama saudara kembarnya, Ia membantu usaha keluarga yang telah dirintis sejak 2005 dengan dua ekor sapi.
Aktivitas kandang jelas tidak selalu berjalan dengan mudah. Ketersediaan pakan kerap menjadi tantangan, terutama saat musim kemarau, ketika hijauan sulit didapatkan. Kondisi semakin berat juga ketika wabah PMK melanda, membuat beberapa sapi jatuh sakit dan memengaruhi produktivitas.
Melalui pendampingan dari tim MPDD Nestlé Indonesia, keluarga Zuliyanti mulai mendapatkan pelatihan untuk mengelola pakan secara lebih terencana, sehingga ketersediaannya tetap terjaga sepanjang musim. Mereka juga mendapatkan dukungan dalam meningkatkan praktik pemeliharaan ternak, mulai dari aspek nutrisi hingga kesehatan sapi.

Perubahan besar terjadi ketika program modernisasi kandang mulai diterapkan. Sistem kandang yang sebelumnya menggunakan metode ikat bertransformasi menjadi kandang umbaran yang lebih terbuka, dilengkapi mesin perah, kipas angin, serta mesin pencacah pakan (chopper). Lingkungan kandang menjadi lebih nyaman, dan perawatan ternak pun lebih efisien.
Seiring berjalannya waktu, hasilnya mulai terlihat. Produktivitas meningkat, kondisi ternak lebih sehat, dan usaha keluarga pun berkembang. Dari yang awalnya hanya memiliki dua ekor sapi, kini jumlah ternak mereka bertambah menjadi sekitar 30 ekor, terdiri dari sapi perah, kering, dara, hingga pedet. Bagi Zuliyanti, perubahan ini tidak hanya berdampak pada usaha, tetapi juga pada kehidupan keluarganya. Ia kini dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menabung untuk masa depan. Bersama saudara kembarnya, ia melihat beternak sebagai usaha yang ingin terus mereka kembangkan ke depan.
“Mungkin kotor di tangan, tapi jadi emas di masa depan,” ujarnya.
Kisah Siyanah, Yuni, dan Zuliyanti menunjukkan bahwa ketangguhan dalam industri susu tidak hanya dibangun oleh sistem, tetapi oleh perempuan-perempuan yang menjalaninya setiap hari. Dari yang memulai dari nol, bertahan di tengah berbagai tantangan, hingga yang mampu melihat peluang di masa depan, mereka terus berkembang bersama dukungan dan pendampingan dari tim Milk Procurement & Dairy Development (MPDD) Nestlé Indonesia, mulai dari peningkatan kapasitas, akses teknologi, hingga praktik peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan. Pendampingan inilah yang memperkuat peran mereka di dalam ekosistem peternakan sekaligus menghadirkan kontribusi Nyata Bawa Makna, memastikan setiap tetes susu tetap berkualitas sejak dari kandang hingga sampai ke tangan masyarakat.
Editor : Iwan Iwe



















