Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kemampuan anak-anak dan remaja dalam menggunakan media sosial secara bijak menjadi tantangan tersendiri. Menyadari hal tersebut, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya menggagas sebuah program edukatif bertajuk “3E: Membangun Emosi, Etika, dan Empati di Generasi Digital.”
Program ini dilaksanakan, melalui kerja sama dengan Panti Asuhan Uswah, dengan tujuan untuk meningkatkan literasi digital anak-anak panti asuhan agar mampu berinteraksi secara sehat, bertanggung jawab, dan berempati di dunia maya. Kegiatan dilakukan dalam tiga kali pertemuan selama periode November hingga Desember 2025, dengan pendekatan edukatif-interaktif yang disesuaikan dengan rentang usia peserta, yaitu 8–18 tahun.
Edukasi Digital yang Menyenangkan dan Bermakna
Setiap pertemuan mengangkat satu tema utama yang relevan dan memiliki korelasi dengan tantangan komunikasi di era digital. Pada pertemuan pertama, yang dilakukan pada hari Minggu, 16 November 2025, peserta diajak mengenal diri dan emosi melalui materi “Mengenal Diri Sendiri dan Emosi di Dunia Digital.” Materi disampaikan secara ringan dan disertai berbagai permainan interaktif agar anak-anak lebih mudah memahami cara mengenali serta mengelola emosi saat berinteraksi secara digital.
Pertemuan kedua, berlangsung pada Minggu, 30 November 2025, membahas tema “Bijak dan Beretika di Media Sosial.” Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada etika bermedia sosial, termasuk cara menghadapi komentar negatif, menghindari penyebaran hoaks, serta pentingnya bersikap sopan dan bertanggung jawab di ruang digital.
Dan, akhirnya, pertemuan ketiga, dilakukan pada hari Minggu, 14 Desember 2025, mengangkat tema “Membangun Hubungan Positif dan Empatik di Dunia Maya.” Pada sesi ini, anak-anak diajak untuk memahami pentingnya empati, menghargai perasaan orang lain, serta mempraktekkan komunikasi positif melalui kegiatan seperti simulasi dan kampanye mini kebaikan.
Seluruh sesi dikemas dengan permainan, diskusi, simulasi kasus, hingga refleksi diri, sehingga proses belajar terasa menyenangkan dan tidak menggurui.
Berangkat dari Permasalahan Nyata
Program 3E berangkat dari hasil observasi langsung tim mahasiswa terhadap kondisi mitra. Anak-anak Panti Asuhan Uswah diketahui masih memiliki pemahaman yang terbatas terkait media sosial. Hal ini terlihat ketika sebagian besar anak-anak tingkat SD belum mengenal media sosial, sementara anak SMP dan SMA hanya memahami secara umum.
Keterbatasan akses terhadap gawai yang hanya diperbolehkan pada waktu tertentu menjadi salah satu faktor minimnya pengalaman mereka di dunia digital. Meski demikian, tim menilai bahwa seiring bertambahnya usia, anak-anak panti asuhan tetap akan berhadapan dengan media sosial. Oleh karena itu, pembekalan sejak dini dinilai penting agar mereka tidak terjerumus pada dampak negatif seperti cyberbullying, penipuan online, maupun komunikasi yang tidak etis.
Menanamkan Nilai Etika Komunikasi Digital
Melalui program 3E, mahasiswa FIKOM Universitas Ciputra Surabaya menanamkan nilai-nilai etika komunikasi yang mencakup kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, keterbukaan, keadilan, dan empati. Anak-anak tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung bagaimana bersikap jujur, menghargai perbedaan, bertanggung jawab atas ucapan, serta memahami perasaan orang lain dalam komunikasi digital.
Program ini juga mendorong praktik komunikasi yang sehat, seperti mendengarkan secara aktif, berbicara tanpa menghakimi, serta memahami konteks sosial dan budaya dalam berinteraksi di dunia maya.
Kolaborasi dan Harapan Keberlanjutan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara terstruktur, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi bersama mitra. Tim mahasiswa yang terlibat antara lain Nasya Veransya Rahman, Marcia Sheva Solaiman, dan Maverick Sebastian Taslim, dengan dukungan pendamping lokal dari Panti Asuhan Uswah, Ibu Kholis.
Melalui program 3E ini, mahasiswa berharap anak-anak panti asuhan dapat tumbuh menjadi generasi digital yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga matang secara emosional, beretika, dan berempati. Ke depan, program ini diharapkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak anak-anak di berbagai komunitas, demi terciptanya ekosistem digital yang lebih sehat dan manusiawi. Bahkan jika memungkinkan, kelak bisa dilakukan pertemuan rutin minimal sebulan sekali, dengan anak - anak tersebut, sehingga komunikasi akan tetap berlanjut dan tidak berhenti di sini saja, sebagai perwujudan Program Edukatif yang berkelanjutan bagi sesama.









