SURABAYA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai berdampak pada mobilitas internasional, termasuk terhadap jemaah umrah asal Jawa Timur. Dalam program “Gak Cumak Cangkruk’an” yang tayang di JTV, Jumat (6/3/2026), dilaporkan bahwa eskalasi konflik di kawasan tersebut telah memicu gangguan pada jadwal penerbangan dari Arab Saudi menuju Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Jawa Timur, Mohammad As’adul Anam, mengungkapkan bahwa sempat terjadi penumpukan jemaah di Arab Saudi. Meski kini kondisi mulai membaik, ribuan jemaah masih menunggu jadwal kepulangan.
“Dari data pekan lalu, tercatat sekitar 9.432 jemaah asal Jawa Timur yang tertahan. Namun, hingga siang ini, angka tersebut telah berkurang menjadi sekitar 7.632 jemaah seiring dengan kembali beroperasinya sebagian penerbangan,” jelas As’adul Anam.
Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Travel Umrah Jawa Timur, Ahmad Bajuri, menjelaskan bahwa gangguan utama dialami oleh jemaah yang menggunakan rute transit. “Penerbangan yang mengalami kendala adalah rute transit, seperti melalui Dubai, Abu Dhabi, atau Doha, karena wilayah tersebut berdekatan dengan zona konflik,” ujarnya.
Baca Juga : Selat Hormuz Ditutup: Ancaman Resesi Global Menghantui, Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus 150 Dolar AS
Sementara itu, maskapai yang melayani penerbangan langsung (direct flight) seperti Saudia Airlines, Garuda Indonesia, Lion Air, dan AirAsia dilaporkan masih beroperasi sesuai jadwal. Pihak maskapai pun umumnya bertanggung jawab menanggung akomodasi bagi jemaah yang mengalami pembatalan atau penundaan penerbangan.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Probo Darono, menyebut gangguan ini merupakan konsekuensi logis dari situasi konflik bersenjata. “Dalam kondisi perang, negara-negara cenderung membatasi ruang udara tertentu, sehingga maskapai terpaksa mengubah rute atau membatalkan penerbangan demi keamanan,” tuturnya.
Menyikapi situasi ini, Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah serta Kementerian Luar Negeri telah mengeluarkan imbauan agar calon jemaah mempertimbangkan penundaan keberangkatan hingga kondisi keamanan di Timur Tengah lebih kondusif. Kendati demikian, tingginya antusiasme jemaah untuk beribadah di bulan Ramadan membuat banyak calon jemaah tetap memilih berangkat selama jadwal penerbangan masih tersedia.
Pemerintah terus mengingatkan seluruh penyelenggara perjalanan umrah dan masyarakat untuk terus memantau perkembangan situasi terkini, dengan tetap menjadikan keselamatan jemaah sebagai prioritas utama. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















