PACITAN - PT PLN Nusantara Power (PLN NP) Unit Pembangkit Pacitan bersama Pemerintah Desa Sukorejo dan Institut Pertanian Malang (IPM) memanen hasil demplot pertanian yang menggunakan kompos Fly Ash Bottom Ash (FABA) di Desa Sukorejo, Kabupaten Pacitan, Rabu (15/7). Keberhasilan uji coba tersebut menjadi dasar untuk memperluas pemanfaatan kompos FABA pada lahan pertanian di desa setempat.
Program ini merupakan kolaborasi antara PLN Nusantara Power, pemerintah desa, akademisi, kelompok tani, dan masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan FABA sebagai pembenah tanah yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan hasil samping proses pembangkitan listrik.
Asisten Manager SDM, Umum dan CSR PT PLN Nusantara Power UP Pacitan, Risky Tri Listirta, mengatakan panen demplot menjadi bukti bahwa FABA dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat apabila dikelola secara tepat.
"Melalui program ini kami ingin menunjukkan bahwa Fly Ash Bottom Ash tidak hanya dikelola secara bertanggung jawab, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Hasil panen demplot ini menunjukkan bahwa kompos FABA memiliki potensi untuk mendukung produktivitas pertanian sekaligus menjadi implementasi nyata prinsip circular economy yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat," ujar Risky.
Baca Juga : 6.582 Gempa Tercatat Lima Tahun, BMKG Jadikan Pacitan Prioritas Penguatan Mitigasi
Penelitian yang dilakukan tim Institut Pertanian Malang menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dosis kompos FABA, yakni tanpa kompos sebagai kontrol, dosis 0,9 kilogram per meter persegi, 1,8 kilogram per meter persegi, dan 3,6 kilogram per meter persegi. Seluruh perlakuan diterapkan pada 16 petak penelitian selama satu musim tanam.
Hasil pengamatan menunjukkan seluruh perlakuan kompos FABA memberikan respons positif terhadap pertumbuhan tanaman padi. Dosis tertinggi menghasilkan pertumbuhan terbaik dengan tinggi tanaman mencapai 29,55 sentimeter, jumlah malai 10,75 malai per rumpun, serta panjang malai 24,95 sentimeter, lebih tinggi dibandingkan tanaman tanpa perlakuan kompos FABA.
Ketua Peneliti Institut Pertanian Malang, Nining Pambudi Astuti, menjelaskan data yang diperoleh selama penelitian menjadi dasar ilmiah untuk pengembangan pemanfaatan kompos FABA di sektor pertanian.
Baca Juga : BPBD Pacitan Siaga Hadapi Kekeringan, Pengajuan Bantuan Air Bersih Masih Nihil
"Demplot ini menggunakan empat perlakuan dosis kompos FABA sehingga kami dapat mengevaluasi respons tanaman pada setiap perlakuan. Berdasarkan hasil pengamatan selama satu musim tanam, kompos FABA menunjukkan respons yang positif terhadap pertumbuhan tanaman padi dan menghasilkan panen yang baik. Data yang diperoleh menjadi dasar ilmiah dalam melihat potensi pemanfaatan kompos FABA pada sektor pertanian," jelasnya.
Keberhasilan panen tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Sukorejo. Kepala Desa Sukorejo, Imam Khoerudin, menyatakan pemerintah desa siap menyiapkan lahan bengkok milik perangkat desa sebagai lokasi pengembangan program agar manfaat kompos FABA dapat dirasakan lebih banyak petani.
"Hasil panen demplot ini sangat baik dan memberikan keyakinan kepada kami bahwa kompos FABA memiliki potensi untuk diterapkan pada lahan pertanian yang lebih luas. Pemerintah Desa Sukorejo siap mendukung pengembangannya dengan memanfaatkan tanah bengkok milik perangkat desa sebagai lahan pengembangan. Harapannya, inovasi ini dapat dimanfaatkan lebih banyak petani sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata Imam.
Baca Juga : Festival Ronthek Pacitan 2026 Usung Konsep Panggung Berjalan, Penjurian Sepanjang Jalur
PLN Nusantara Power menilai keberhasilan demplot ini menjadi langkah awal pengembangan kompos FABA sebagai alternatif pembenah tanah yang ramah lingkungan. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, inovasi tersebut juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah dari pemanfaatan hasil samping pembangkitan listrik serta memperkuat ketahanan pangan melalui sinergi antara dunia industri, pemerintah desa, akademisi, dan masyarakat. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan



















