BLITAR - Kebijakan pembukaan kawasan wisata Makam Bung Karno (MBK) selama 24 jam menuai reaksi dari warga sekitar. Puluhan pelaku usaha pariwisata yang menggantungkan nasib di Kota Blitar tersebut menggelar pertemuan dengan Wali Kota Syauqul Muhibbin untuk menyampaikan rasa waswas terkait jam operasional baru.
Dialog santai tersebut dihadiri oleh berbagai elemen penggerak ekonomi wisata. Mulai dari pelaku usaha kuliner, pengayuh becak, pengelola penginapan, hingga para pedagang pasar di area setempat. Mereka sambat dan mengutarakan kekhawatiran bahwa dagangannya justru bakal sepi pembeli jika tempat wisata tetap dipaksa beroperasi pada waktu istirahat malam.
Menanggapi keresahan itu, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menyambut baik aspirasi warganya dan langsung mengajak mereka berembuk. Ia menjelaskan, tujuan awal kebijakan buka nonstop itu sejatinya dirancang untuk mendongkrak tingkat kunjungan peziarah, yang ujungnya diharapkan bisa melipatgandakan perputaran uang dan jasa di sekitar kawasan wisata.
Untuk menepis kekhawatiran pedagang, wali kota memberikan gambaran tentang sejumlah destinasi wisata religi di daerah lain yang justru kebanjiran pengunjung saat malam hari. "Keluhan-keluhan ini sudah kami catat dan akan dilakukan pembahasan lebih lanjut untuk menemukan solusi bersama," ujar Syauqul Muhibbin menenangkan warganya.
Sebagai langkah ekstra untuk mendongkrak daya tarik pariwisata, Pemerintah Kota Blitar juga berencana menggelar event rutin. Acara tersebut akan diselenggarakan setiap peringatan hari pasaran wafatnya sang proklamator guna menyedot lebih banyak antusiasme pelancong dari luar daerah.
Sementara itu, sembari mencari formulasi operasional yang paling pas, jam buka wisata ziarah di MBK kembali mengalami penyesuaian. Khusus untuk area pusara utama, pintu ziarah untuk sementara waktu akan ditutup setiap pukul lima pagi hingga delapan pagi.(Qithfirul Aziz)
Editor : JTV Kediri



















