NGAWI - Ratusan warga Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, menggelar tradisi sedekah bumi dengan cara unik, yakni perang nasi.
Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh selama satu tahun.
Ratusan warga berkumpul di salah satu tempat yang dikeramatkan di desa setempat. Masing-masing warga membawa bungkusan nasi untuk dikumpulkan dan kemudian didoakan oleh para sesepuh desa.
Setelah prosesi doa selesai, warga mulai menyerbu nasi yang telah dikumpulkan. Bungkusan nasi tersebut kemudian digunakan untuk saling dilempar kepada warga lain.
Meski berlangsung dengan saling lempar, tradisi ini tidak diwarnai kemarahan. Sebaliknya, perang nasi justru menjadi hiburan dan menghadirkan suasana meriah bagi warga yang mengikuti maupun menyaksikannya.
Tradisi tersebut bahkan menarik perhatian warga dari luar Desa Pelang Lor yang datang untuk melihat secara langsung keunikan sedekah bumi tersebut.
Salah seorang warga, Sidi Prayitno, mengatakan perang nasi menjadi salah satu tradisi yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahun.
“Tradisi ini sudah menjadi kegiatan tahunan. Warga mengikuti dengan senang karena selain sebagai bentuk syukur, perang nasi juga menjadi hiburan bersama.”
Sementara itu, Kepala Desa Pelang Lor, Hariyana, menjelaskan bahwa tradisi sedekah bumi tersebut telah menjadi kegiatan rutin masyarakat setiap tahun.
Menurutnya, dahulu nasi yang dibawa warga untuk sedekah bumi biasanya diperebutkan dan dibawa pulang. Namun, seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi perang nasi sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Meski demikian, hingga kini masih ada sejumlah warga yang membawa pulang nasi setelah prosesi berlangsung.
“Kalau dulu nasi yang digunakan untuk sedekah bumi itu diperebutkan dan dibawa pulang. Sekarang berkembang menjadi saling lempar karena hasil panen yang melimpah. Tetapi masih ada juga warga yang membawa pulang.”
Tradisi sedekah bumi dengan perang nasi di Desa Pelang Lor ini tidak sekadar menjadi hiburan. Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut merupakan wujud syukur sekaligus bentuk sedekah atas hasil bumi yang diterima selama setahun.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini sekaligus menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk menjaga kebudayaan dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat desa.
Editor : JTV Madiun



















