Menu
Pencarian

Tradisi Megengan, Filosofi Apem dan Simbol Maaf Masyarakat Jawa Sambut Ramadan

Portaljtv.com - Kamis, 19 Februari 2026 06:00
Tradisi Megengan, Filosofi Apem dan Simbol Maaf Masyarakat Jawa Sambut Ramadan
tradisi megengan di wilayah jawa selalu dilakukan saat menjelang ramadhan (sumber: unsplash)

SURABAYA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai wilayah di Jawa Timur kembali menggelar tradisi Megengan. Tradisi turun-temurun ini telah menjadi momentum spiritual rutin sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Megengan biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Syakban, beberapa hari sebelum penetapan 1 Ramadan. Warga berkumpul di masjid maupun musala untuk menggelar doa bersama, pembacaan tahlil, serta tausiah singkat.

Salah satu ciri khas dari tradisi Megengan adalah pembagian kue apem kepada tetangga dan kerabat. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras ini memiliki makna simbolis sebagai permohonan maaf. Sebagian masyarakat meyakini kata “apem” berasal dari bahasa Arab afwan yang berarti ampunan atau maaf.

Di Kota Surabaya, tradisi ini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat kampung. Warga biasanya membawa apem dalam wadah besek atau nampan untuk kemudian dibagikan setelah doa bersama. Tidak sedikit pula yang mengantarkan apem langsung ke rumah tetangga sebagai bentuk mempererat hubungan sesama manusia.

Sejumlah sejarawan menyebut tradisi Megengan sudah ada sejak masa penyebaran Islam di Tanah Jawa, terutama pada era dakwah Wali Songo. Tradisi ini menjadi bagian dari proses akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam, sehingga pesan keagamaan dapat diterima masyarakat secara lebih mudah.

Di daerah lain seperti Gresik dan Sidoarjo, Megengan juga dirangkai dengan pengajian akbar serta kegiatan sosial. Beberapa masjid bahkan mengadakan santunan bagi anak yatim dan kaum duafa sebagai wujud kepedulian sosial menjelang Ramadan.

Meski di tengah arus modernisasi, Megengan tetap bertahan sebagai tradisi yang dinanti. Walaupun bentuk pelaksanaannya mengalami penyesuaian, esensi kebersamaan dan nilai religiusnya tetap terjaga. Warga yang jarang bertemu dapat kembali bersilaturahmi, saling berbagi makanan, dan memperbarui hubungan baik melalui momen ini.

Pemerintah daerah melihat tradisi Megengan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang patut dilestarikan. Beberapa wilayah bahkan mulai mengemas Megengan dalam bentuk festival budaya dengan tetap menjaga nilai sakralnya.

Dengan keberlanjutan tradisi ini, Megengan tidak hanya menjadi ritual menyambut Ramadan, tetapi juga simbol harmoni antara agama dan budaya. Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini menjadi pengingat pentingnya kebersamaan, permohonan maaf, dan kesiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci. (Cahya Fitra)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.