SIDOARJO - Di Dusun Ketawang, Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, denyut kehidupan warga terasa berbeda setiap Jumat Legi dalam penanggalan Jawa. Sejak pukul 05.00 WIB, jalanan desa mulai dipadati warga yang membawa tas belanja menuju satu titik: Pasar Jumat Legi. Inilah pasar tradisional unik yang hanya buka sebulan sekali.
Selain menjadi tempat transaksi, bagi masyarakat Ketawang dan sekitarnya, pasar ini adalah saksi momentum warga untuk bertemu, berbagi kabar, sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Menurut penuturan warga, Pasar Jumat Legi telah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak masa penjajahan. Tradisi ini dikaitkan dengan sosok Mbah Muhammad Ali, tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Ia disebut sebagai penggagas awal pasar yang mulanya difungsikan sebagai tempat berkumpul warga untuk bertukar barang, informasi, sekaligus media dakwah.
“Dulu katanya pasar ini buka setiap hari. Tapi saat masa penjajahan, hanya diperbolehkan buka seminggu sekali,” ujar Udin (45), warga setempat yang rutin datang setiap Jumat Legi.
Baca Juga : Jatim Sportiv Festival 2025 Hadirkan Serunya Lomba Olahraga Tradisional di Unesa
Seiring waktu, operasional pasar ini ditetapkan hanya pada Jumat Legi, yang menurut sumber warga bertepatan dengan hari wafatnya Mbah Muhammad Ali. Tradisi tersebut bertahan hingga kini dan menjadi identitas khas yang membedakan Pasar Jumat Legi dari pasar tradisional lainnya.
Surga Jajanan Jadul dan Ruang Nostalgia
Secara fisik, pasar ini membentang sepanjang kurang lebih satu kilometer di area terbuka. Deretan lapak sederhana dari bambu dan kayu berdiri rapat di kanan-kiri jalan. Aroma makanan tradisional berpadu dengan suara tawar-menawar menciptakan suasana riuh yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
Baca Juga : Warung Kaliurang Blitar Tawarkan Kuliner Pedesaan dengan Harga Terjangkau
Berbagai kebutuhan sehari-hari tersedia, namun daya tarik utamanya terletak pada jajanan tradisional yang kian langka. Beberapa di antaranya adalah gatot (singkong kukus dengan kelapa parut), gempo (kue ketan gula merah), serta lupis yang disiram juruh manis.
Salah satu jajanan "jadul" yang paling dikenal adalah bendera ladu. Kue tradisional ini dijual oleh Saromah, pedagang yang telah berjualan sejak usia sekolah dasar. “Saya sudah berjualan di sini sejak SD. Sekarang saya sudah punya cucu dan masih di tempat yang sama,” kata Saromah.
Magnet Lintas Generasi
Baca Juga : 5 Alat Musik Tradisional Khas Jawa Timur
Bagi generasi muda, Pasar Jumat Legi memiliki daya tarik tersendiri. Candra, seorang pelajar, mengaku kerap datang bersama teman-temannya. “Saya suka ke sini sama teman-teman. Jajanannya beda, tidak seperti yang ada di minimarket,” ujarnya.
Tak hanya warga Ketawang, beberapa pedagang dan pembeli bahkan datang dari luar daerah. Interaksi antara berbagai latar belakang ini menciptakan dinamika sosial yang unik. Di tengah gempuran pasar daring (online), Pasar Jumat Legi tetap bertahan dengan pola konvensionalnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar tradisional masih relevan sebagai ruang pertukaran budaya. Menjelang siang, satu per satu pedagang mulai membereskan lapaknya. Keramaian perlahan surut hingga pasar kembali menjadi jalan desa biasa. Namun, cerita yang tercipta setiap Jumat Legi tetap menjadi pengikat sosial yang kuat bagi warga Sukodono. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















