MADURA - Jawa Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki keanekaragaman bahasa dan budaya daerah. Selain bahasa Jawa, yang merupakan bahasa daerah dengan jumlah penutur terbesar di Jawa Timur, terdapat pula bahasa Madura yang digunakan oleh masyarakat di Pulau Madura dan sebagian wilayah pesisir Jawa Timur, serta Using yang dituturkan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. Keberagaman bahasa daerah di Jawa Timur tersebut ternyata juga menunjukkan keberagaman budaya masyarakat Jawa Timur. Hal ini terlihat dari adanya variasi penggunaan kosakata yang berkembang di masyarakat yang menyesuaikan dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat penuturnya.
Kekayaan variasi bahasa dan budaya dalam masyarakat Jawa Timur tersebut dapat dilihat dari tradisi meminta hujan saat kemarau panjang. Tradisi meminta hujan dalam budaya Madura dikenal dengan istilah ojung. Ojung merupakan tradisi meminta hujan berupa pertarungan gulat tradisional (okol) oleh dua orang dengan menggunakan rotan, dan seringkali diiringi musik tradisional dan dipimpin oleh tokoh adat yang disebut dengan babuto. Tradisi ini selain meminta hujan, tolak bala, juga dilakukan untuk mempererat silaturahmi. Tradisi ini berkembang di wilayah Madura kepulauan, khususnya daerah Pamekasan dan Sumenep. Selain itu juga berkembang di wilayah tapal kuda, seperti Situbondo, Bondowoso, dan sebagian Banyuwangi.
Hal ini berbeda dengan masyarakat Jawa Timur lainnya, terdapat tradisi meminta hujan yang diberi nama tiban. Tiban merupakan tradisi meminta hujan saat musim kemarau panjang, dilakukan oleh dua orang lelaki yang bertarung dengan mengunakan cambuk/pecut terbuat dari lidi aren hingga mengeluarkan darah, biasanya diiringi gamelan. Darah yang menetes diyakini sebagai simbol persembahan untuk mendatangkan hujan dan kesuburan. Tradisi tiban berkembang di wilayah Kediri, Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.
Kedua tradisi ini sama-sama bertujuan untuk meminta hujan di musim kemarau panjang, perbedaannya terletak pada alat yang digunakan. Keberagaman penggunaan istilah untuk mengungkapkan konsep yang sama dalam bahasa-bahasa di Jawa Timur, menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak hanya sekadar berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media penyimpanan pengetahuan budaya masyarakatnya. Melalui kosakata khas yang dimiliki setiap bahasa, dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti kuliner, tradisi sosial, dan aktivitas sehari-hari maka dapat diketahui tradisi budaya masyarakatnya. (Puspa Ruriana)
Editor : Iwan Iwe



















