TULUNGAGUNG - Memasuki bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek, umat di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung menggelar sembahyang Jao Tu pada Minggu petang. Ritual doa bersama dan pelimpahan jasa ini dilaksanakan dengan khusyuk untuk menghormati serta menyelamatkan arwah leluhur agar bisa terlahir kembali di alam yang lebih baik.
Rangkaian peribadatan yang dipimpin langsung oleh seorang pandita tersebut berjalan dengan khidmat. Prosesi diawali dengan pendaftaran nama-nama leluhur yang kemudian diletakkan di altar utama. Setelah itu, umat melantunkan doa dan pembacaan sutra, memberikan persembahan makanan beserta dupa, hingga diakhiri dengan tradisi pembakaran kertas sembahyang.
Pada gelaran Jao Tu kali ini, pihak klenteng secara khusus mendoakan 900 orang arwah yang berasal dari 150 keluarga. Masing-masing nama mendiang ditempatkan berdampingan di altar yang disinari cahaya lilin dan dilengkapi dengan aneka sesaji.
Bioma Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Tjio Jing Jing menuturkan, ibadah ini memiliki makna spiritual yang mendalam, baik bagi mereka yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Selain dipercaya mampu menanam benih berkah, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan keluarga besar.
"Sembahyang ini digelar agar keturunan yang masih hidup bisa melakukan perbuatan baik, berdoa, lalu mengalirkan pahala tersebut kepada para leluhur mereka," ungkap Tjio Jing Jing.
Rangkaian ritual bulan ketujuh ini rupanya tak berhenti di situ saja. Keesokan harinya, pihak klenteng melanjutkan agenda dengan tradisi sembahyang rebutan.
Ritual lanjutan tersebut ditujukan untuk mendoakan arwah leluhur sekaligus arwah telantar yang tidak memiliki keluarga. Nilai kepedulian lintas alam itu turut diwujudkan secara nyata di dunia lewat pembagian paket sembako bagi warga kurang mampu yang bermukim di sekitar lingkungan klenteng.(Agus Bondan-Beny Setiawan)
Editor : JTV Kediri



















