TUBAN - Dalam era yang serba modern ini, semakin banyak makanan instan yang beredar di pasaran. Namun, pasangan suami istri di Kabupaten Tuban, Pargon (41) dan Asih (34), justru memilih setia menjalankan usaha tradisional yang telah memberi mereka penghasilan hingga belasan juta rupiah per bulan.
Mereka memproduksi tape ubi singkong yang dibuat tanpa bahan pengawet, menjadi pilihan jajanan sehat yang semakin diminati.
Pargon, yang sehari-hari bekerja sebagai petani, mengungkapkan bahwa usaha tape ubi ini dimulai 12 tahun yang lalu, dan ia mempelajarinya secara otodidak.
"Awalnya cuman membuat tape biasa buat di pasar lokal gitu yang kecil-kecil menggunakan plastik sama mika. Kemudian ada orang dinas mengajak biar bisa membuat tape besek. Pemasarannya masih lewat online dan orang datang ke rumah langsung," ungkap Pargon.
Kini, tape singkong produksi pasangan ini dikemas dalam besek bambu, yang lebih ramah lingkungan dan memberikan kesan tradisional. Dalam sebulan, mereka mampu menjual sekitar 1.500 besek tape singkong dengan harga 10 ribu rupiah per besek, yang artinya mereka meraup omset hingga 15 juta rupiah per bulan. Produk ini kini tidak hanya laku di Tuban dan sekitarnya, tetapi juga mulai dikenal hingga luar daerah.
Tape singkong buatan Pargon dan Asih memang memiliki rasa manis yang khas dan tekstur lembut, membuatnya menjadi jajanan favorit banyak orang, terutama sebagai oleh-oleh atau suguhan tamu.
Salah satu pelanggan, Rico Oktavian, mengungkapkan keistimewaan tape singkong ini.
"Rasa manisnya dan lembutnya itu juga lebih enak, berbeda dari yang lain. Saya baru tiga kali ini pesan di sini, biasanya buat oleh-oleh keluarga kalau datang ke Tuban atau buat suguhan tamu."
Berkat konsistensi dan inovasi, tape singkong tradisional ini kini menjadi produk yang populer, dan Pargon serta Asih pun berharap usaha mereka dapat terus berkembang dan lebih dikenal luas. (Dziky Muhamad/ Khusni Mubarok/Dhelfia Ayu)
Editor : Iwan Iwe

















