PROBOLINGGO - Langkah kaki yang dulu saling berdesakan kini terdengar lebih jarang. Lorong-lorong Pasar Gotong Royong di Kelurahan Jati, Kota Probolinggo, tampak lengang pada Kamis (18/6/2026) siang.
Beberapa pedagang duduk menunggu pembeli sambil sesekali memainkan telepon genggam mereka.
Padahal, beberapa dekade lalu, pasar ini menjadi tujuan utama warga menjelang tahun ajaran baru. Orang tua datang bersama anak-anaknya untuk berburu seragam sekolah, sepatu, tas, buku tulis hingga kotak pensil. Suasananya riuh. Tawar-menawar terdengar dari berbagai penjuru kios.
Kini, kejayaan itu tinggal menjadi cerita yang masih tersimpan kuat dalam ingatan para pedagang dan pelanggan setianya.
Di salah satu kios perlengkapan sekolah, Silvia Ayu masih setia menjaga usaha warisan orang tuanya. Perempuan itu menjadi saksi hidup bagaimana Pasar Gotong Royong pernah menjadi pusat perputaran ekonomi terbesar di Kota Probolinggo.
“Kalau musim masuk sekolah seperti sekarang ini dulu ramai sekali. Dari pagi sampai malam pembeli datang terus. Kadang orang tua kami sampai tidak sempat istirahat karena melayani pembeli yang antre memilih seragam dan perlengkapan sekolah,” kenang Silvia.
Matanya sesekali memandang lorong pasar yang tampak lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang masih ada yang datang, tetapi tidak sebanyak dulu. Kadang satu jam lebih baru ada pembeli masuk. Jauh sekali bedanya dengan masa kejayaan pasar ini,” ujarnya.
Bagi Silvia, perubahan zaman menjadi faktor utama menurunnya jumlah pengunjung pasar tradisional. Masyarakat kini semakin akrab dengan belanja online yang menawarkan kemudahan hanya melalui layar ponsel.
“Orang sekarang maunya praktis. Tinggal klik, bayar, barang diantar ke rumah. Kami tidak bisa menyalahkan itu karena memang perkembangan zaman,” katanya.
Meski demikian, ia percaya ada pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh toko daring.
“Kalau beli seragam sekolah di pasar, anak bisa langsung mencoba ukuran. Orang tua bisa melihat kualitas kainnya. Kalau kurang pas bisa langsung diganti. Itu kelebihan yang tidak dimiliki belanja online,” tutur Silvia.
Agar tidak tertinggal, Silvia pun mulai belajar mengikuti perkembangan teknologi. Ia mempromosikan barang dagangannya melalui media sosial.
“Sekarang saya juga jualan lewat TikTok dan media sosial lainnya. Mau tidak mau harus belajar. Kalau hanya menunggu pembeli datang ke pasar, tentu sulit,” katanya sambil tersenyum.
Bagi sebagian warga Probolinggo, Pasar Gotong Royong bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar ini menyimpan banyak kenangan masa kecil.
Salah satunya dirasakan Buani (50), warga Kelurahan Mayangan. Siang itu ia datang bersama keluarganya untuk membeli perlengkapan sekolah anak.
Di tengah banyaknya pilihan belanja online, Buani tetap memilih datang langsung ke pasar yang telah dikenalnya sejak kecil.
“Saya ini pelanggan lama Pasar Gotong Royong. Dari zaman masih sekolah sampai sekarang punya anak, kalau beli perlengkapan sekolah ya ke sini,” ujarnya.
Buani masih mengingat bagaimana pasar tersebut selalu dipenuhi warga menjelang tahun ajaran baru.
“Dulu kalau masuk musim sekolah, jalan di dalam pasar sampai susah dilewati. Orang tua dan anak-anak ramai mencari seragam, tas, dan sepatu. Suasananya hidup sekali,” kenangnya.
Menurutnya, kebiasaan datang ke pasar bukan semata soal berbelanja, melainkan juga soal pengalaman.
“Kalau datang langsung, kita bisa memilih barang dengan puas. Anak-anak juga senang karena bisa mencoba tas atau sepatu yang mereka suka. Ada rasa yang berbeda dibandingkan hanya melihat foto di ponsel,” katanya.
Ia mengaku sedih melihat kondisi pasar yang semakin sepi.
“Sayang sekali kalau pasar legendaris seperti ini kehilangan pengunjung. Padahal banyak kenangan warga Probolinggo yang tersimpan di sini,” ujarnya.
Pasar Gotong Royong sendiri memiliki perjalanan panjang. Pasar ini pernah dilanda kebakaran besar pada awal 1990-an. Namun setelah dibangun kembali, aktivitas perdagangan tumbuh pesat dan menjadikannya salah satu pusat ekonomi penting di Kota Probolinggo.
Pada masa itu, para pedagang mengaku bisa meraup omzet puluhan juta rupiah dalam sehari saat musim masuk sekolah maupun menjelang Lebaran.
“Kalau dulu musim seperti ini bisa disebut panen. Pembeli datang dari berbagai daerah. Kadang stok barang cepat habis karena permintaan sangat tinggi,” kata Silvia.
Kini situasinya jauh berbeda. Meski masih bertahan, para pedagang harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pelanggan.
Namun di balik lorong yang mulai sepi dan kios-kios yang tak lagi sesak pembeli, semangat para pedagang tetap menyala. Mereka percaya pasar tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
“Kami hanya berharap masyarakat sesekali datang lagi ke pasar. Selain membantu pedagang kecil, mereka juga ikut menjaga keberadaan pasar tradisional yang menjadi bagian dari sejarah kota ini,” ujar Silvia.
Menjelang tahun ajaran baru, Pasar Gotong Royong memang tidak lagi seramai dulu. Tetapi bagi banyak warga Probolinggo, pasar ini tetap menjadi ruang nostalgia; tempat di mana kenangan membeli seragam sekolah pertama, menawar harga tas, hingga berjalan beriringan bersama orang tua masih tersimpan rapi dan belum lekang oleh waktu. (*)
Editor : M Fakhrurrozi

















