SURABAYA - Diskusi mengenai arah pembangunan Surabaya kembali mengemuka melalui program “Gak Cumak Cangkrukan” yang tayang di JTV pada Jumat (06/02/26). Dalam dialog bertajuk Menata Masa Depan Surabaya sebagai Kota Maritim, para pakar lintas disiplin membedah potensi, tantangan, serta langkah strategis yang perlu ditempuh agar Surabaya mampu menguatkan kembali identitasnya sebagai kota pelabuhan.
Surabaya dinilai memiliki modal sejarah dan geografis yang kuat sebagai kota maritim. Sejak masa Hujung Galuh, era Majapahit, hingga kolonial Belanda, Surabaya berperan sebagai simpul perdagangan penting di kawasan timur Nusantara. Namun, orientasi pembangunan yang selama ini lebih condong ke daratan membuat potensi laut dan pesisir belum dimanfaatkan secara optimal.
Pakar kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Suntoyo, mengungkapkan kawasan pesisir Surabaya saat ini menghadapi tekanan serius akibat sedimentasi. Berdasarkan kajian citra satelit, dalam kurun lebih dari satu dekade, garis pantai di sejumlah wilayah pesisir Surabaya mengalami pergeseran ke arah laut.
“Sedimentasi yang tinggi berdampak pada aktivitas pelayaran, perikanan, hingga menurunnya kualitas ekosistem pesisir. Padahal, laut adalah ruang masa depan Surabaya,” ujar Suntoyo.
Dari Pakar Sejarah Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menekankan bahwa Surabaya sejak awal tumbuh sebagai kota pelabuhan. Penataan pelabuhan pada awal abad ke-20 dinilai sudah dilakukan secara terencana dan terintegrasi, sehingga mampu menopang sistem logistik dan perdagangan.
“Orientasi pembangunan ke laut dan sungai perlu dihidupkan kembali. Surabaya bukan hanya kota darat, tetapi kota pelabuhan yang pernah berjaya,” jelas Purnawan.
Sementara itu, ahli tata kota Universitas Kristen Petra Surabaya, Benny Poerbantanoe, menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, konsep kota maritim tidak cukup berhenti pada tataran wacana, melainkan harus diterjemahkan secara konkret dalam perencanaan wilayah dan sistem transportasi.
“Konsep kota maritim harus diwujudkan secara nyata dalam tata ruang dan transportasi berbasis air. Tanpa konsistensi kebijakan, orientasi pembangunan ke laut akan sulit terwujud,” ujar Benny.
Dari sisi ekonomi kerakyatan, pakar maritim Universitas Hang Tuah Surabaya, Dyah Eko Setyowati, menegaskan bahwa pembangunan kota maritim harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat pesisir. Sedimentasi dan rusaknya ekosistem laut disebut telah menurunkan pendapatan nelayan serta pelaku UMKM pesisir.
“Nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya lebih besar. Ini membutuhkan solusi kolaboratif, mulai dari pengerukan yang terkontrol, pemberdayaan ekonomi, hingga akses pasar yang lebih luas,” tuturnya.
Obrolan dalam "Gak Cumak Cangkrukan” ini menegaskan bahwa masa depan Surabaya sebagai kota maritim hanya dapat terwujud melalui sinergi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Penataan pesisir, penguatan ekonomi biru, pengembangan transportasi sungai dan laut, serta perlindungan ekosistem menjadi kunci agar Surabaya tidak hanya mengenang kejayaan masa lalu, tetapi mampu membangun masa depan maritim yang berkelanjutan. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe

















