MAGETAN - Cuaca panas yang melanda Kabupaten Magetan memengaruhi aktivitas petani di area persawahan. Terik matahari membuat petani menyesuaikan jam kerja, sementara tanah yang lebih cepat kering mengharuskan pengairan dilakukan lebih sering sehingga menambah biaya budi daya.
Kondisi tersebut dirasakan Pardi, petani asal Desa Karangrejo, Magetan. Jika sebelumnya ia berangkat ke sawah pukul 07.00 dan pulang sekitar pukul 11.00, kini ia memilih berangkat lebih pagi agar bisa kembali ke rumah sekitar pukul 10.00. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengurangi paparan panas saat bekerja di area persawahan terbuka.
Selain mengubah jam kerja, Pardi juga harus menambah frekuensi pengairan sawah. Jika sebelumnya pengairan dilakukan setiap sepuluh hari, kini ia harus mengairi sawah sekitar lima hari sekali agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air yang cukup. Kondisi tersebut membuat biaya pengairan ikut meningkat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa suhu panas di Pulau Jawa dapat dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain posisi matahari, kondisi atmosfer yang cenderung cerah, serta minimnya pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut memungkinkan lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi sehingga suhu udara meningkat, terutama pada siang hari.
Baca Juga : Biaya Hemat dan Anti Ribet, Petani Sidoarjo Cuma Butuh KTP Tebus Pupuk Subsidi di KDKMP
Pada pertengahan Oktober, suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia dilaporkan mencapai 38 derajat Celsius. Kondisi panas menjadi tantangan bagi petani dalam menjaga kebutuhan air tanaman sekaligus mengatur biaya produksi. Penyesuaian waktu kerja dan pengairan menjadi salah satu upaya agar kegiatan budi daya tetap berjalan di tengah cuaca panas.
Editor : JTV Madiun























