PROBOLINGGO - Gelaran Batik in Motion 2026 di Kota Probolinggo, Jawa Timur, berlangsung spektakuler, Jumat (5/9/2026) sore.
Acara yang digelar di Jalan Panglima Sudirman, depan Kantor Wali Kota Probolinggo, itu memadukan pertunjukan seni budaya, tari kolosal, dan line dance batik yang melibatkan ribuan peserta.
Kegiatan yang dibuka Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin itu menjadi penyelenggaraan kedua Batik in Motion. Selain Aminuddin, event dihadiri Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari, Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani, serta perwakilan Dekranasda se-Jawa Timur.
Gelar seni dibuka dengan tari kolosal yang menampilkan ribuan pelajar. Sejumlah tarian khas turut dipentaskan, di antaranya Tari Kiprah Lengger, Tari Kreasi Kipas Bayu Angga, serta Tari Jaran Bodag yang merupakan salah satu warisan budaya takbenda Kota Probolinggo.
Puncak kemeriahan terjadi saat 2.705 peserta dari kalangan pelajar, sanggar senam, dan masyarakat mengikuti line dance sambil membawa kain batik. Ribuan peserta bergerak serempak dengan kain batik berbagai motif khas Probolinggo.
Penampilan tersebut kemudian mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI untuk kategori senam line dance dengan jumlah peserta terbanyak.
Piagam rekor MURI diserahkan kepada Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani. Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, Batik in Motion tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya dan potensi daerah.
“Event seperti ini perlu terus dikembangkan. Harapannya, Batik in Motion bisa menjadi salah satu event unggulan Kota Probolinggo dan ke depan dapat masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara,” kata Aminuddin.
Ia menilai gelaran budaya yang dikemas secara kreatif mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada wisatawan.
“Batik, seni, dan budaya yang kita miliki harus terus dipromosikan. Semakin banyak orang mengenal Probolinggo melalui karya dan budayanya, tentu dampaknya akan semakin baik bagi daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani mengatakan Batik in Motion menjadi ruang promosi sekaligus kesempatan bagi para perajin untuk meningkatkan nilai dan daya saing produk batik lokal.
“Kami ingin para perajin batik di Kota Probolinggo terus naik kelas. Batik khas Probolinggo harus semakin dikenal, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga hingga mancanegara,” katanya.
Menurut Evariani, penyelenggaraan Batik in Motion juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan ragam motif dan karya batik Probolinggo kepada masyarakat melalui pendekatan seni dan pertunjukan.
“Melalui event seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik bisa diperkenalkan dengan cara yang lebih kreatif dan menarik. Batik bukan hanya produk, tetapi juga identitas dan kekayaan budaya yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Pemecahan rekor MURI tersebut sekaligus menjadi kado bagi Hari Jadi Kota Probolinggo ke-667.
Batik in Motion 2026 dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Selain pertunjukan tari kolosal dan line dance batik, kegiatan tersebut juga menampilkan beragam kesenian budaya serta kreasi batik.
Gelaran ini akan ditutup pada Minggu dengan agenda Batik Tourism Experience sebagai bagian dari rangkaian promosi batik dan potensi wisata Kota Probolinggo. (*)
Editor : M Fakhrurrozi

















