SURABAYA - Pantai Kenjeran yang selama ini dikenal sebagai kawasan pesisir sekaligus destinasi wisata bahari, kini menghadapi ancaman serius berupa sedimentasi yang kian parah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup para nelayan yang menggantungkan mata pencaharian dari laut.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama program “Dialog Khusus” JTV pada pada Rabu (18/03/26).
Sebagai bagian dari wilayah pesisir timur Surabaya, Pantai Kenjeran memiliki nilai historis sejak masa Kerajaan Majapahit, ketika kawasan ini menjadi jalur penting perdagangan maritim. Namun, kini fungsi strategis tersebut mulai terganggu akibat pendangkalan yang disebabkan oleh endapan lumpur.
Fatchul Munir, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Kepiting Sukolilo Larangan Surabaya, mengungkapkan bahwa sedimentasi yang terjadi saat ini sangat menghambat aktivitas nelayan.
Baca Juga : Wajah Baru Rawat Inap RSMM Jatim: Fasilitas Makin Modern, Pelayanan Tetap Setara
"Sedimentasi saat ini sangat tinggi dan mengganggu aktivitas nelayan, baik saat berangkat maupun saat kembali. Bahkan saat air pasang pun kondisi masih dangkal," ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Selain mempersulit akses perahu, sedimentasi juga berdampak pada penurunan jumlah nelayan. Dari sekitar 110 orang pada awal 2000-an, kini tersisa sekitar 35 orang karena banyak yang beralih profesi.
"Harapan kami ada penanganan seperti pengerukan agar akses keluar masuk perahu kembali lancar," tambahnya.
Baca Juga : Program Pemberdayaan Ekonomi RW Surabaya Dorong Kemandirian Generasi Z
Hal senada disampaikan Samsul, nelayan Pantai Kenjeran yang telah puluhan tahun melaut. Menurutnya, sedimentasi membuat aktivitas melaut menjadi tidak menentu. “Kalau dulu kita bebas berangkat dan pulang kapan saja, tapi sekarang sangat tergantung pasang surut karena banyak lumpur. Itu membuat aktivitas nelayan jadi sulit,” katanya.
Kondisi ini juga berdampak langsung pada hasil tangkapan. Nelayan kerap mengalami kerugian karena hasil laut membusuk sebelum sampai ke daratan.
"Hasil tangkapan sering busuk di tengah karena tidak bisa cepat merapat ke darat," lanjutnya.
Baca Juga : Sedimentasi Pesisir Pantai Kenjeran, Ancaman Nyata bagi Nelayan Surabaya
Dampak serupa dirasakan nelayan pelaku usaha olahan hasil laut di kawasan Kenjeran. Fathur Rokhman menyebut kualitas bahan baku menurun akibat keterlambatan distribusi dari laut ke darat.
"Dulu hasil tangkapan melimpah dan cepat sampai ke darat, sekarang butuh waktu lebih lama sehingga kualitas ikan menurun," ujarnya.
"Pendapatan jelas turun karena bahan baku berkurang dan sering tidak layak jual," imbuhnya.
Baca Juga : Ironi “War Cerai” di Bulan Ramadhan, Angka Perceraian di Surabaya Meningkat
Para nelayan menduga sedimentasi dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kiriman lumpur dari luar wilayah yang dikaitkan dengan Lumpur Lapindo yang terbawa arus hingga ke laut. Selain itu, aktivitas manusia dan perubahan ekosistem pesisir turut memperparah kondisi tersebut.
Para nelayan berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, seperti pengerukan sedimentasi serta penyediaan akses keluar-masuk perahu yang memadai. Mereka juga meminta perhatian lebih terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.
Munir menegaskan, keberlanjutan profesi nelayan kini berada di titik kritis.
Baca Juga : Makna Biqolbin Salim, KH Imam Hambali Ingatkan Bahaya Iri dan Dengki dalam Kehidupan
"Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi berikutnya tidak lagi melanjutkan pekerjaan sebagai nelayan," tegasnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, sedimentasi di Pantai Kenjeran tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi keberlangsungan ekonomi dan budaya masyarakat pesisir Surabaya. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















