Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Universitas Bengkulu berhasil mengidentifikasi spesies baru bunga Rafflesia di kawasan hutan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Spesies yang diberi nama Rafflesia harjatii ini resmi dipublikasikan secara ilmiah pada Januari 2026.
Keberadaan bunga ini sebenarnya telah terdeteksi sejak era 1980-an di kawasan konservasi PT ITCI Kartika Utama. Namun, identitasnya baru dapat dipastikan setelah tim peneliti melakukan serangkaian pengujian intensif, mulai dari uji DNA hingga kajian morfologi mendalam. Hasil penelitian membuktikan bahwa bunga tersebut merupakan entitas baru yang berbeda secara genetik dari spesies yang sudah dikenal sebelumnya.
Karakteristik Khas Rafflesia Harjatii
Secara morfologi, Rafflesia harjatii memiliki karakter unik yang membedakannya dari jenis Rafflesia lainnya:
- Ukuran: Diameter bunga berkisar antara 17 hingga 22 sentimeter, masuk dalam kategori Rafflesia berukuran relatif kecil.
- Pola: Tidak ditemukan pola bercak putih (window) pada bagian dalam bunga.
- Struktur: Memiliki ramenta berbentuk silindris yang menyerupai duri serta jumlah prosesus yang lebih banyak dengan susunan berbeda.
- Kemiripan: Secara sekilas mirip dengan Rafflesia tengku-adlinii dari Sabah, Malaysia, namun data molekuler menegaskan keduanya adalah spesies yang berbeda.
Habitat dan Status Endemik
Spesies ini ditemukan tumbuh di hutan dipterokarpa dataran rendah pada ketinggian 325–329 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Seperti jenis Rafflesia lainnya, bunga ini bersifat parasit dan bergantung sepenuhnya pada tanaman inang dari genus Tetrastigma. Berdasarkan asesmen awal, Rafflesia harjatii berstatus endemik Kalimantan Timur karena sejauh ini hanya ditemukan di kawasan Sepaku dengan tiga sub-populasi yang tercatat.
Meski berada di area konservasi perusahaan yang relatif terlindungi dari aktivitas manusia, ancaman alami seperti curah hujan tinggi yang ekstrem tetap menjadi faktor risiko bagi pelestariannya. Penemuan ini menambah daftar kekayaan hayati Indonesia sekaligus menegaskan pentingnya menjaga hutan tropis sebagai benteng terakhir flora langka dunia. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















