Menu
Pencarian


Presiden Instruksikan Menko PMK dan Kepala BNPB Percepat Pemadaman Karhutla Bromo

Farid Fahlevi - Selasa, 11 Agustus 2026 17:30
Presiden Instruksikan Menko PMK dan Kepala BNPB Percepat Pemadaman Karhutla Bromo
Menko PMK dan Kepala BNPB mendengarkan paparan tim penanganan bencana Karhutla. (Foto: Farid Fahlevi)

PROBOLINGGO - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, mendapat perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto. Presiden mengutus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto untuk meninjau langsung penanganan kebakaran di kawasan tersebut, Selasa (11/8/2026) siang.

Kedatangan Menko PMK dan Kepala BNPB untuk memastikan proses pemadaman berjalan maksimal, sekaligus mengevaluasi kondisi terkini kawasan Bromo yang masih terbakar.

Sebelum turun langsung melihat lokasi, Pratikno dan Letjen Suharyanto terlebih dahulu menerima paparan dari tim gabungan yang menangani kebakaran.

Paparan tersebut membahas perkembangan terkini karhutla, luas kawasan yang terdampak, titik api yang masih aktif, hingga strategi pemadaman yang dilakukan petugas.

Baca Juga :   Kawasan Bromo Terbakar, Wisatawan Tetap Bisa Menikmati Pesona dari Ketinggian

Dari hasil pemantauan, masih terdapat dua titik api yang menjadi perhatian petugas. Masing-masing berada di kawasan Bukit P30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta kawasan Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Kedua lokasi tersebut berada di medan yang cukup ekstrem. Titik api berada di kawasan tebing dengan ketinggian sekitar 100 hingga 200 meter.

Kondisi medan yang curam membuat pemadaman secara manual menjadi sangat sulit dilakukan. Karena itu, petugas mengandalkan pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing.

Baca Juga :   Petugas Gabungan Kebakaran Bromo Patroli 24 Jam Cegah Api Kembali Merembet

Namun, upaya tersebut tidak selalu berjalan lancar. Kabut tebal yang kerap menyelimuti kawasan Bromo menjadi salah satu kendala utama bagi helikopter untuk melakukan sorti.

Menko PMK Pratikno mengatakan, perhatian pemerintah terhadap kebakaran Bromo tidak terlepas dari instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Pratikno, Presiden meminta agar penanganan kebakaran di Bromo maupun sejumlah wilayah lain yang mengalami karhutla dilakukan secara serius dan segera dituntaskan.

Baca Juga :   Tinjau Kebakaran di Bromo, Menhut Pastikan Water Bombing Beroperasi Hingga Api Padam

“Kebakaran ini menjadi perhatian serius Presiden. Beliau meminta agar penanganan kebakaran di Bromo dan wilayah lainnya segera bisa diselesaikan,” kata Pratikno saat meninjau penanganan karhutla Bromo.

Pratikno menegaskan, pemerintah pusat akan terus melakukan koordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

“Kita memastikan seluruh upaya yang dilakukan di lapangan berjalan dan bisa memberikan hasil yang maksimal,” ujarnya.

Baca Juga :   Bromo Masih Terbakar, 4 Pintu Masuk Ditutup Hingga Batas Waktu Belum Ditentukan

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan, saat ini fokus penanganan diarahkan pada dua titik api yang masih sulit dijangkau.

Ia menargetkan penanganan kebakaran di kawasan Bromo dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari ke depan.

“Target kita dalam tiga hari ke depan, dua titik ini bisa kita selesaikan,” kata Suharyanto.

Baca Juga :   Wagub Jatim Cek Kondisi Bromo, Hutan dan Lahan yang Terbakar Capai 520 Hektare

Berdasarkan data sementara, luas kawasan Bromo yang terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 889 hektare.

Suharyanto menjelaskan, medan yang terjal membuat upaya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan personel di darat.

“Ada dua titik yang memang posisinya sulit dijangkau. Tebingnya cukup tinggi, sehingga penanganan dari darat sangat sulit,” jelasnya.

Karena itu, BNPB terus mengoptimalkan penggunaan helikopter water bombing.

Namun, faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam operasi pemadaman dari udara.

Kabut tebal yang muncul di kawasan Bromo membuat jarak pandang pilot terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan operasi water bombing harus dihentikan sementara pada Selasa siang.

“Kita masih terkendala kabut. Kalau jarak pandang tidak memungkinkan, helikopter tidak bisa melakukan sorti,” ujar Suharyanto.

Selain mengandalkan pemadaman dari darat dan udara, pemerintah juga menyiapkan langkah modifikasi cuaca.

Teknologi modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu mendatangkan hujan di kawasan yang terbakar, sehingga proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat.

“Kita akan melakukan modifikasi cuaca. Harapannya nanti ada hujan yang bisa membantu proses pemadaman,” kata Suharyanto.

Menurutnya, modifikasi cuaca akan menjadi salah satu strategi tambahan untuk mempercepat penanganan, khususnya di titik-titik yang sulit dijangkau petugas.

Suharyanto memastikan, tim gabungan tetap bersiaga dan melakukan pemantauan terhadap perkembangan api.

"Petugas terus melakukan upaya pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi untuk mencegah api kembali meluas. Dengan masih adanya dua titik api dan luas area terbakar yang mencapai 889 hektare, pemerintah menargetkan penanganan dapat dituntaskan dalam tiga hari ke depan,"ulasnya.

Upaya tersebut dilakukan dengan menggabungkan pemadaman darat, water bombing dari udara, serta rencana modifikasi cuaca.

"Pemerintah berharap kombinasi berbagai metode tersebut mampu mempercepat pemadaman dan mengakhiri kebakaran di kawasan Gunung Bromo," pungkasnya. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.