KOTA MALANG - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan buah tropis yang melimpah. Namun di tengah banyaknya jenis buah yang populer, ada satu buah lokal yang kini kian jarang dijumpai, yakni mundu atau secara ilmiah dikenal sebagai Garcinia dulcis. Buah ini dulunya cukup mudah ditemukan di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Kalimantan.
Mundu tumbuh subur di wilayah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menyimpan pohon mundu di pekarangan rumah warga atau lahan tertentu. Meski begitu, keberadaannya kini lebih sering ditemukan sebagai tanaman koleksi di sejumlah kebun konservasi, seperti Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Purwodadi.

Secara fisik, buah mundu memiliki kulit berwarna kuning cerah saat matang, dengan rasa perpaduan asam dan manis yang menyegarkan. Daging buahnya lembut dan berair, sehingga cocok dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi aneka produk seperti sirup, selai, hingga manisan tradisional.
Dari sisi kandungan gizi, mundu menyimpan berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh. Buah ini mengandung antioksidan alami seperti morelloflavone dan garcinol yang berperan melawan radikal bebas. Selain itu, terdapat pula vitamin C, serat, serta kalsium yang membantu menjaga daya tahan tubuh, mendukung kesehatan tulang, dan melancarkan sistem pencernaan.
Dalam praktik pengobatan tradisional, bagian biji dan daun muda mundu juga kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai ramuan herbal untuk membantu meredakan gangguan ringan seperti sariawan dan diare. Kandungan alaminya bahkan dipercaya memiliki efek antiinflamasi serta membantu menjaga kesehatan jantung.
Sayangnya, minimnya budidaya membuat pohon mundu semakin jarang dibudidayakan secara luas. Padahal, sebagai salah satu plasma nutfah asli Indonesia, mundu memiliki potensi besar baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Upaya pelestarian dan pengenalan kembali buah lokal seperti mundu menjadi langkah penting agar kekayaan hayati Nusantara tidak hilang ditelan zaman. (Prakerin-Ahmad)
Editor : JTV Malang



















