SIDOARJO - Berawal dari menyisihkan uang saku pemberian orang tua dan uang Tunjangan Hari Raya (THR), seorang mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur sukses membangun bisnis jasa cuci sepatu. Usaha yang kini kian berkembang tersebut diberi nama Lave Shoe Treatment.
Pria yang akrab disapa Naufal ini mengaku nekat merintis bisnis tersebut karena melihat adanya peluang besar di tengah kebutuhan masyarakat yang tinggi akan perawatan alas kaki. Ia menilai bisnis ini memiliki prospek keuntungan jangka panjang yang menjanjikan.
“Bisnis ini berangkat dari kebutuhan harian masyarakat, jadi saya merasa jasanya tidak akan mati tergerus zaman. Saat ingin memulai, saya juga melihat belum ada satu pun dari relasi atau teman dekat saya yang membuka usaha serupa,” ujar Naufal saat ditemui, Jumat (17/7/2026).
Melihat minimnya kompetitor di lingkungan sekitarnya, Naufal memantapkan niat untuk membuka jasa cuci sepatu yang awalnya menyasar segmentasi pasar teman-teman sesama mahasiswa.
Baca Juga : Berawal dari 'Paksaan' Belajar Menjahit, Santri Trenggalek Kini Kebanjiran Pesanan Seragam
Usaha Lave Shoe Treatment kini tercatat sudah berjalan hampir dua tahun. Naufal menceritakan, seluruh modal awal untuk membeli perlengkapan operasional murni berasal dari uang saku sisa perayaan Idulfitri.
“Waktu itu modal awal sepenuhnya saya ambil dari uang saku hari raya. Karena modalnya terbatas, saya pergunakan dengan sangat efisien untuk membeli sikat khusus dan berbagai bahan pembersih lainnya satu per satu,” lanjut mahasiswa program studi Sistem Informasi tersebut.
Proses pengadaan bahan baku dinilainya cukup cepat dan mudah, sebab seluruh kebutuhan sabun pembersih khusus sepatu kini dapat dijangkau melalui platform niaga elektronik (e-commerce). Berkat manajemen yang disiplin, Naufal mengungkapkan bahwa ia hanya membutuhkan waktu enam bulan untuk mencapai titik balik modal (return on investment).
Baca Juga : UMKM Tanpa HKI: Usaha Kecil, Risiko Besar Mengintai
Untuk strategi pemasaran, Naufal memanfaatkan media sosial Instagram serta jaringan pertemanan kuliahnya. Selain itu, ia juga memaksimalkan fitur digital agar lokasinya mudah dijangkau oleh konsumen.
“Kami mendaftarkan lokasi usaha di Google Maps agar konsumen tidak bingung mencari jalan. Sejak merintis lewat Google Maps itu, pesanan mulai datang ramai,” ungkapnya.
Perjalanan bisnis Naufal tidak selalu mulus. Pada awal merintis, ia mendirikan usaha ini bersama seorang temannya. Namun di tengah jalan, sang rekan memutuskan mundur. Naufal pun terpaksa menjalankan operasional bisnis seorang diri agar modal yang telanjur dibelikan alat tidak terbuang sia-sia. Beruntung, memasuki tahun kedua, ia berhasil menemukan rekan baru untuk diajak bekerja sama.
Awalnya, Lave Shoe Treatment menggunakan konsep industri rumahan (home industry) dengan memanfaatkan kediaman Naufal di Perumahan Taman Anggun Sejahtera 3, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo. Seiring meningkatnya omzet dan permintaan, Naufal kini sukses membuka cabang kedua di kawasan Desa Ponti, Sidoarjo.
Volume pesanan jasa cuci sepatu ini diakuinya fluktuatif karena sangat bergantung pada musim dan waktu luang konsumen. Kendati demikian, dalam sehari Naufal pernah menerima hingga 20 pasang sepatu untuk diselesaikan dalam target waktu satu minggu.
Dari bisnis ini, keuntungan bersih yang didapatkan rata-rata menembus angka Rp1 juta per bulan. Naufal menerapkan sistem bagi hasil yang terstruktur dan adil dengan rekannya.
“Untuk pendapatan bersih, kami bagi rata berdasarkan hitungan sistem yang sudah disepakati bersama. Masing-masing bisa mengantongi kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bulan,” pungkas Naufal. (Muhammad Maulana Saputro)
Editor : Iwan Iwe



















