Menu
Pencarian


Menyusuri Jejak Gerabah Jawa dari Gosari hingga Kasongan Lewat Pameran Arik S. Wartono

Portaljtv.com - Kamis, 17 September 2026 21:22
Menyusuri Jejak Gerabah Jawa dari Gosari hingga Kasongan Lewat Pameran Arik S. Wartono
Pengunjung menikmati karya seni dan arsip sejarah gerabah dalam pameran Dari Gosari ke Kasongan karya Arik S. Wartono di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. (Foto: Aurelia Rahma)

SURABAYA - Seniman asal Gresik, Arik S. Wartono, menggelar pameran tunggal seni rupa dan arsip sejarah bertajuk Dari Gosari ke Kasongan di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Pameran ini menjadi upaya Arik untuk menelusuri kembali jejak sejarah gerabah Jawa, dari Gosari di Gresik hingga Kasongan di Yogyakarta.

Melalui pameran ini, Arik menggabungkan karya seni dengan arsip dan artefak sejarah. Fragmen gerabah dari abad ke-12 hingga abad ke-14, yang dikaitkan dengan periode Singhasari hingga Majapahit, turut ditampilkan sebagai arsip sejarah sekaligus bagian dari instalasi Mandala Giri Kedaton.

Instalasi tersebut memadukan rangkaian gerabah, lampion Damar Kurung berbentuk segitiga, serta batik Damar Kurung. Karya ini menjadi bagian dari upaya Arik untuk melihat bagaimana simbol dapat berpindah dan mengalami perubahan makna dalam perjalanan sejarah.

Selain artefak, sebanyak 12 karya astrofotografi turut dipamerkan. Karya-karya tersebut merekam langit di atas kawasan yang berkaitan dengan sejarah gerabah, mulai dari Gosari, Gresik, hingga Kasongan dan wilayah Kedu. Di antaranya Purnama Gosari, Malam Goa Gosari, Malam Giri Kedaton, Malam Kedu, dan Senja Kasongan.

Arsip yang ditampilkan juga mencakup berbagai material, seperti fragmen gerabah Gosari, air Gosari dan Kasongan, lempung Kasongan dan Gosari, produk gerabah pengrajin Kasongan, batu Gosari, fosil kerang dari Ujungpangkah Gresik, hingga buku serta dokumentasi foto dan video penelitian.

Di sejumlah sudut ruang pamer, Arik juga menghadirkan bunga bougenville atau bunga kertas yang ditempatkan dalam vas gerabah. Dalam konsep kuratorialnya, bunga tersebut digunakan sebagai simbol untuk mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana pengetahuan sejarah dan kebudayaan terbentuk, termasuk pengaruh narasi kolonial.

Bagi Arik, pameran bukan sekadar menampilkan karya seni. Ia ingin menyampaikan kajian sejarah melalui medium yang lebih beragam.

“Yang dasar pertama, ini adalah tesis sejarah versi saya. Biasanya kalau sejarawan penelitian, terus jadi buku, setelah itu seminar-seminar. Maka saya membuat agak berbeda dengan cara mengemasnya dengan seni,” ujar Arik.

Arik berharap konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi festival dengan skala nasional hingga internasional. Ia juga membuka peluang adanya seniman yang melakukan residensi untuk berkarya di kawasan situs sejarah, dengan hasil karya yang dapat turut mendukung upaya pelestarian situs.

“Harapan saya dengan begini ada kita bikin festival, kalau bisa skalanya nasional, kemudian internasional,” kata Arik.

Pembukaan pameran turut diisi pembacaan puisi oleh Mulyadi J. Amalik yang membawakan tiga puisi untuk menarasikan karya-karya Arik. Menurut Mulyadi, kekuatan Arik sebagai astrofotografer terlihat dari ketelitian dalam menangkap objek dan menentukan momen.

“Tingkat detailnya, momen yang dia ambil itu sangat kuat dan itu juga tercermin pada cara dia berkarya di seni rupa,” ujar Mulyadi. Ia juga menilai karya Arik tetap membawa sisi spiritual yang tidak disampaikan secara verbal, tetapi hadir melalui nilai yang terkandung dalam karya.

Sementara itu, Prof. Djuli Djatiprambudi dari Universitas Negeri Surabaya yang membuka pameran menilai kegiatan yang mengangkat tradisi memiliki arti penting di tengah kuatnya perkembangan budaya populer dan teknologi.

“Saya pikir kegiatan yang menyentuh ketradisian seperti itu, secara lama terutama, penting untuk hari ini. Karena kita ini terlalu diserbu budaya populer, kontemporer, AI (Artificial Intelligence), macam-macam, terus lali dengan budaya sendiri. Nah, ini menjadi penting untuk belajar,” ujar Prof. Djuli.

Menurutnya, karya dan tradisi masa lalu menyimpan pengetahuan mengenai seni, material, teknologi, kebudayaan, estetika, hingga kehidupan masyarakat. Pameran semacam ini juga dinilai dapat membangun kesadaran sejarah masyarakat.

“Ya membentuk kesadaran, bukan pengalaman. Karena kalau kita kurang itu, kita tiba-tiba kehilangan. Tidak mampu menjawab siapa saya, siapa sebenarnya saya,” kata Prof. Djuli.

Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan dan diedukasi kepada masyarakat. Menurutnya, Taman Budaya dan museum dapat mengambil peran lebih besar agar peninggalan sejarah tidak hanya tersimpan, tetapi dapat kembali diakses dan dipahami masyarakat.

“Iya, betul itu, kita kurang itu. Terlalu banyak pameran kontemporer, yang kekinian, ya. Tapi yang lalu-lalu, makin hari makin nggak dapat tempat. Ya saya pikir Taman Budaya, untuk saya, harus mengambil peran itu,” ujarnya.

Salah seorang pengunjung, Saskia, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya, mengaku awalnya mengira pameran tersebut hanya menampilkan seni lukis. Namun, setelah mengikuti pembukaan dan melihat karya yang ditampilkan, ia mendapatkan perspektif berbeda mengenai seni rupa yang dipadukan dengan sejarah.

Pameran Dari Gosari ke Kasongan berlangsung pada 18 hingga 22 September 2026, pukul 15.00 hingga 21.00 WIB di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Nomor 85, Surabaya. Pameran terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. (Aurelia Rahma)

Editor : A. Ramadhan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.