NGANJUK - Kabupaten Nganjuk memiliki pusat pelestarian sejarah lokal yang menyimpan ratusan koleksi benda cagar budaya. Museum Anjuk Ladang hadir sebagai ruang dokumentasi perjalanan peradaban wilayah setempat, mulai dari masa prasejarah hingga era kolonial.
Museum ini berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk, tepat di sebelah timur Terminal Bus Nganjuk. Gedung ini mulai dibangun pada 1996 di era kepemimpinan Bupati Soetrisno. Sebelum resmi difungsikan sebagai museum daerah pada 2003, bangunan ini sempat digunakan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk.
Sebelum museum ini berdiri, Nganjuk telah memiliki “Balai Arca” di Kelurahan Mangundikaran. Tempat tersebut dulunya menjadi wadah penyimpanan arca, lingga, yoni, serta berbagai temuan arkeologis. Sebagian besar koleksi museum saat ini tercatat berasal dari pindahan Balai Arca tersebut.
Secara keseluruhan, Museum Anjuk Ladang menyimpan sekitar 800 koleksi sejarah dan budaya. Penataan ruang pamerannya didesain berdasarkan alur peradaban yang unik, layaknya sebuah "lorong waktu".
Koleksi Lintas Zaman
Pada bagian masa prasejarah, pengunjung dapat melihat fragmen fosil gajah purba (Stegodon), banteng, kerbau, hingga rusa purba. Memasuki masa klasik atau Hindu-Buddha, terdapat replika Prasasti Anjuk Ladang (937 Masehi) yang berkaitan erat dengan Raja Mpu Sindok, serta koleksi arca Siwa dan perunggu Kinari.
Sementara itu, koleksi masa kolonial mencakup telepon klasik, senjata api, hingga mesin ketik kuno. Di ruang etnografi, museum menampilkan kekayaan budaya lokal seperti Wayang Timlong, boneka Rara Bungok, dan berbagai peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Nganjuk tempo dulu.
Fasilitas dan Akses Pengunjung
Museum ini beroperasi setiap Senin–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB, serta Sabtu–Minggu pukul 08.00–12.00 WIB. Tarif masuknya sangat terjangkau, yakni Rp2.000 untuk anak-anak dan Rp3.000 untuk dewasa.
Keberadaan museum ini mendapat respons positif dari masyarakat. Seorang pengunjung dengan akun AA PWE menuliskan ulasannya, “Sebuah sumber ilmu, pengetahuan, dan sejarah kehidupan. Tempat yang menarik bagi anak-anak dan generasi penerus.”
Senada dengan itu, pengunjung lain bernama Anisa Suhartina memuji kenyamanan lokasi. “Museum Anjuk Ladang memiliki banyak arca yang menarik dipelajari. Tempatnya sejuk, makanan di kantin enak, serta fasilitas musala dan kamar mandi memadai,” tulisnya.
Selain pameran tetap, pengelola museum rutin mengadakan pameran temporer dan kegiatan edukatif untuk pelajar guna meningkatkan kesadaran sejarah generasi muda. Museum Anjuk Ladang tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan benda purbakala, tetapi juga menjadi sarana edukasi penting untuk mengenal jejak masa lalu daerah. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















