SURABAYA - Provinsi Jawa Timur dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sektor maritim di Indonesia. Dengan potensi kelautan dan perikanan yang melimpah, wilayah ini menjadi tulang punggung produksi perikanan nasional. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diatasi agar sektor ini mampu memberikan kontribusi maksimal bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan pesisir.
Dalam program "Dialog khusus" yang tayang di JTV pada Senin (13/04/26) berbagai pihak mulai dari pemerintah, akademisi, hingga perwakilan nelayan membahas secara mendalam peluang dan kendala dalam pengembangan sektor maritim di Jawa Timur.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Dwi Yunaedi Windyarto, mengungkapkan bahwa Jawa Timur memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 3.500 kilometer dengan luas laut mencapai 5,2 juta hektare. Potensi ini didukung oleh 22 pelabuhan perikanan serta ratusan ribu nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
“Produksi perikanan tangkap Jawa Timur mencapai sekitar 607 ribu ton dan menjadi yang tertinggi secara nasional. Sementara produksi budidaya mencapai 1,4 juta ton,” ujarnya.
Baca Juga : Menteri KKP Tambah Fasilitas SPBN dan Bantuan Kapal untuk Nelayan Banyuwangi
Meski demikian, potensi budidaya laut yang mencapai sekitar 303 ribu hektare baru dimanfaatkan sekitar 5 persen. Salah satu kendala utama adalah tingginya kebutuhan modal untuk mengembangkan budidaya skala besar, sehingga diperlukan keterlibatan investor.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Sugeng Nugroho, menyoroti kondisi nelayan tradisional yang masih menghadapi berbagai keterbatasan. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar nelayan menggunakan kapal kecil sehingga tidak mampu menjangkau wilayah laut yang lebih luas seperti Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
“Nelayan tradisional juga harus bersaing dengan kapal besar yang memiliki teknologi lebih maju. Selain itu, kondisi overfishing dan pencemaran di beberapa wilayah laut turut mempengaruhi hasil tangkapan,” jelasnya.
Baca Juga : Konflik Sesama Nelayan, Sejumlah Perahu Dibakar Warga
Permasalahan lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan akses permodalan. Banyak nelayan masih bergantung pada pinjaman dari rentenir untuk biaya operasional melaut, yang pada akhirnya menekan pendapatan mereka.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui berbagai program. Mulai dari penyederhanaan perizinan, penyediaan bahan bakar nelayan, bantuan alat tangkap ramah lingkungan, hingga rencana kerja sama dengan perbankan untuk memberikan akses pembiayaan berbunga rendah.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan konsep ekonomi biru, yakni pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui kebijakan ini, penangkapan ikan akan diatur secara terukur, sementara sektor budidaya didorong untuk menjadi penopang utama produksi.
Baca Juga : Bupati Ipuk Serahkan Bantuan 12 Mesin Kapal untuk Nelayan Banyuwangi
Dari sisi akademisi, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Setyo Nugroho, menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat terhadap sektor maritim. Menurutnya, selama ini bidang kelautan masih dipandang sebelah mata, padahal memiliki potensi besar dan peluang kerja yang luas.
“Kalau kita tidak memperhatikan laut, kita bisa mengalami krisis di masa depan. Laut adalah masa depan, dan di sanalah teknologi tinggi akan sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa inovasi teknologi, seperti sistem pemuatan kapal untuk meningkatkan keselamatan, serta pengelolaan logistik dan kualitas hasil tangkapan, menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing sektor maritim.
Sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap sektor kelautan, akan digelar Maritim Fest pada 20–24 Mei 2026 di Kenjeran Park Surabaya. Kegiatan ini akan menghadirkan berbagai agenda, mulai dari festival kuliner laut, penghargaan maritim, hingga kegiatan olahraga dan edukasi.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan potensi maritim Jawa Timur dapat dimanfaatkan secara optimal. Tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi para nelayan dan pelaku usaha di sektor kelautan. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















