Oleh: Tri Winiasih
Dalam bahasa Jawa Subdialek Surabaya atau lebih dikenal dengan basa Suroboyoan, terdapat istilah unik, yaitu lalar gawe untuk mengungkapkan tindakan yang sia-sia, konyol, atau tidak jelas. Penggunaan ungkapan ini biasanya muncul dalam percakapan informal sebagai bentuk keakraban yang dapat digunakan untuk menyatakan rasa kesal. Misalnya, dalam konteks ketika seseorang membongkar mesin motor yang sudah berfungsi normal, tetapi malah menjadi rusak, dapat dinyatakan dengan kalimat berikut.
Lalar gawe koen iki, mau wis nggenah, saiki malah dadi rusak.
‘Kurang kerjaan kamu ini, tadi sudah benar, sekarang malah menjadi rusak’.
Di sini, "lalar gawe" digunakan untuk mengungkapkan kekesalan terhadap tindakan yang dianggap tidak produktif dan hanya membuang waktu serta tenaga.
Selain itu, lalar gawe dapat digunakan untuk konteks melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal, seperti kalimat berikut.
“Lalar gawe ta bareng awakmu, aku melbu sore kok dijak budal isuk.”
‘Kurang kerjaan apa ikut bersamamu, saya masuk kerja sore kok diajak berangkat pagi.
Di sini, "lalar gawe" digunakan untuk mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap ajakan yang tidak jelas atau konyol.
Dalam bahasa Jawa Standar, bahasa Jawa yang digunakan di Solo dan Yogya, maksud yang sama dapat diungkapkan dalam kalimat berikut.
“Kurang gawean men to mangkat barang kowe, aku melbu sore mbokajak mangkat isuk”.
Bahasa Jawa Standar hanya menggunakan ungkapan kurang gawean, ungkapan lalar gawe tidak digunakan untuk menyatakan tindakan yang sia-sia. Padahal, dalam basa Suroboyoan ungkapan kurang gawean masih digunakan sebagai sinonim lalar gawe.
Bahasa Madura juga mempunyai ungkapan khusus yang menyatakan perbuatan sia-sia, yaitu gangghu' seperti lalar gawe dalam bahasa Suroboyoan dan ungkapan ade' lakona yg lebih netral, sepeti kurang gawean dalam bahasa Jawa Standar. Maksud yang sama dalam bahasa Madura dapat dinyatakan sebagai berikut.
Ghanggu’ (Adhe’ lakonah) ta abareng kakeh, sengkok masok sore mak e ajhek mangkat lagguh.
Penggunaan ungkapan lalar gawe dan gangghu’ karena sifatnya yang informal lebih sesuai digunakan dalam konteks akrab. Jika diucapkan kepada orang yang lebih tua atau dalam situasi formal, kata tersebut dapat dianggap kurang sopan. (*)
Editor : Iwan Iwe



















