KABUPATEN MADIUN - Musim kemarau tidak selalu menjadi kendala bagi petani. Di lereng Gunung Wilis, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, petani justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengembangkan budidaya kentang.
Tanaman hortikultura jenis umbi ini mulai menjadi salah satu komoditas unggulan petani setempat. Kondisi tanah dataran tinggi yang subur serta suhu udara yang relatif stabil dinilai cocok untuk mendukung pertumbuhan tanaman kentang.
Saat ini, luas lahan yang dikembangkan untuk budidaya kentang di Desa Kare mencapai sekitar 21 hektare.
Produktivitasnya pun cukup menjanjikan. Dalam satu tahun, petani mampu melakukan hingga tiga kali siklus tanam. Dari target awal produksi minimal 20 ton per hektare, hasil panen di lapangan justru mampu mencapai 25 hingga 30 ton per hektare dalam sekali masa panen.
Ketua Kelompok Tani Desa Kare, Dicky Irfian Cahya, mengatakan hasil tersebut menunjukkan potensi besar budidaya kentang di wilayah lereng Gunung Wilis.
“Target awal minimal 20 ton per hektare, tetapi hasil riil di lapangan bisa mencapai 25 sampai 30 ton per hektare. Dalam setahun juga bisa dilakukan sampai tiga kali tanam.”
Tak hanya produktivitas, kepastian pasar menjadi salah satu faktor yang membuat petani semakin yakin mengembangkan komoditas kentang.
Petani telah menjalin kemitraan dengan off-taker melalui kontrak harga sekitar Rp9 ribu per kilogram. Kerja sama tersebut memberikan kepastian harga sekaligus membantu petani dalam memasarkan hasil panen.
Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian CWS Kabupaten Madiun, Agung Setyo Nugroho, mengatakan adanya kepastian pasar menjadi salah satu pendukung pengembangan budidaya kentang di kawasan tersebut.
“Dengan adanya kemitraan dan kontrak harga, petani mempunyai kepastian pasar dan harga. Ini memberikan rasa aman bagi petani dalam mengembangkan budidaya kentang.”
Meski memiliki prospek menjanjikan, budidaya kentang pada musim kemarau tetap menghadapi sejumlah tantangan. Penurunan debit air menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi petani.
Selain itu, tanaman kentang juga rentan terhadap serangan hama thrips dan penyakit jamur. Karena itu, petani harus melakukan perawatan secara optimal, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pemenuhan nutrisi, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Dengan produktivitas yang tinggi, kondisi lahan yang mendukung, serta adanya kepastian pasar, kentang diharapkan dapat berkembang menjadi komoditas unggulan baru di kawasan lereng Gunung Wilis.
Budidaya tersebut sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani di tengah tantangan musim kemarau.
Editor : JTV Madiun



















